Mencari Format Ideal Produk VAS sebagai Mobile Content bagi Publik

Posted: December 30, 2008 in Telekomunikasi
Tags: , ,

:: LATARBELAKANG

Kegunaan handphone (HP) sebagai handset alat komunikasi seluler saat ini rupanya telah mengalami pergeseran nilai dari fungsi utamanya. Dahulu, HP kita kenal hanya sebagai alat komunikasi bergerak yang menggantikan peranan telepon rumah saja (fixed telephone), akan tetapi saat ini kebanyakan pengguna HP telah memanfaatkannya sebagai sarana untuk mencari informasi dan hiburan (entertainment). Manfaat ini muncul sebagai nilai tambah pelayanan atau yang lebih dikenal dengan istilah Value Added Services (VAS) yang diberikan oleh operator seluler kepada pelanggannya. Memang tidak dapat kita pungkiri bahwa kedua elemen ini telah menjadi suatu tuntutan kebutuhan yang juga harus dipenuhi.

 

Produk VAS

Produk VAS

Di era seperti ini, peranan informasi menjadi sangat vital di dalam melakukan berbagai aktivitas, karena yang menguasai informasi dialah yang akan menang, menjadi terdepan dan mampu menguasai keadaan. Sebaliknya, bagi yang ketinggalan dalam mencari informasi maka akan kalah dan terlampaui. Sedangkan di satu sisi, entertainment atau hiburan merupakan suatu instrumen yang mampu mengobati kejenuhan di tengah-tengah kesibukan dan waktu luang mereka.

Oleh karena itulah, seharusnya operator seluler bisa melirik kondisi ini sebagai peluang usaha bagi mereka untuk dapat memberikan pelayanan nilai tambah atau Value Added Services (VAS) yang mampu mengakomodir seluruh kebutuhan akan informasi dan entertainment bagi para pelanggannya. Apalagi masing-masing operator sudah siap dengan teknologi 3G mereka untuk mendukung berbagai aplikasi tersebut, tinggal sekarang bagaimana memanfaatkannya untuk mengembangkan produk VAS yang efektif, efiesien dan menarik.

 

:: KORELASI PERSAINGAN TARIF ANTAR OPERATOR DENGAN VAS

Persaingan tarif antar operator seluler yang sering kita lihat dan perdengarkan, suatu saat nanti akan memasuki keadaan yang saya sebut dengan istilah steady state, suatu keadaan dimana tarif akan mengerucut stabil hingga sampai pada suatu titik tertentu. Artinya hal ini akan membuat permasalahan tarif bukanlah hal yang penting lagi bagi publik. Menurut sejauh pengamatan saya, keadaan ini muncul sebagai akibat adanya beberapa faktor yang membuat kondisi ini terbentuk secara tidak langsung. Faktor-faktor itu di antaranya adalah regulasi pemerintah mengenai penurunan tarif interkoneksi, titik kejenuhan pelanggan seluler terhadap iklan promosi persaingan tarif dan teknologi broadband seluler 3G yang siap mendukung aplikasi VAS.

Iklan Promosi Operator

Iklan Promosi Operator

Berbicara masalah regulasi, pemerintah pada tanggal per 1 April kemarin melalui Menkominfo telah mengeluarkan rencana Permen yang mengatur tentang tarif interkoneksi dan formula. Interkoneksi ialah hubungan yang terjadi antar penyelenggara jaringan telekomunikasi satu dengan pihak penyelenggara lain yang berbeda. Misalkan hubungan jaringan operator A dengan jaringan operator B. Regulasi ini secara tidak langsung telah mendorong setiap operator untuk menurunkan tarif interkoneksinya hingga batas atas standar acuan yang diperbolehkan. Selain itu Menkominfo, Moh. Nuh, mengatakan adanya metode penghitungan tarif interkoneksi itu berkait dengan upaya memacu penyelenggara telekomunikasi untuk lebih efisien. Akibatnya, di antara penyelenggara telekomunikasi baru tidak dibebani biaya sebagai akibat inefisiensi dari penyelenggara telekomunikasi lainnya sehingga biaya interkoneksi bukanlah suatu hal yang menjadi permasalahan lagi, karena tarif antar operator akan mencapai suatu standar yang sama.

Sedangkan dari sudut pelanggan, titik kejenuhan muncul sebagai akibat seringkalinya publik dipertontonkan iklan-iklan promosi persaingan tarif oleh para operator seluler dengan gaya dan cara mereka masing-masing yang cenderung menipu publik. Disamping itu, Iklan promosi yang terjadi antar operator seluler di Indonesia cenderung saling menjatuhkan antara satu sama lain dan dinilai tidak sehat serta merugikan masyarakat sebagai pelanggan. Pada situs inilah.com, survey jajak pendapat yang dilakukan ICT Watch terhadap 4.888 responden pengakses di DetikNET mengatakan bahwa sebanyak 42,37% menilai perang iklan tarif murah operator seluler terindikasi membodohi publik. Kemudian sebanyak 38,39% responden menganggap perang iklan tarif murah, terlalu berlebihan, dan hanya 9,26% saja yang memandang iklan perang tarif itu bermanfaat, dan sisanya menjawab yang lain. Hal inilah yang akan menggiring persepsi publik merasa lelah dan tidak lagi memperdulikan kembali masalah tarif, toh tarif yang diberikan ujung-ujungnya sama saja.

persentase

Oleh karena itu, persaingan penurunan tarif suatu saat nanti tidak akan memberikan penetrasi yang berarti kembali bagi operator untuk menaikkan jumlah pelanggannya. Para operator harus segera beralih dari promosi penurunan tarif ke arah pemberian pelayanan nilai tambah melalui produk VAS. Sebab melalui pemberian produk layanan VAS yang efektif, efisien dan menarik inilah operator seluler dapat mendobrak dan meningkatkan penetrasi jumlah pelanggannya.

 

Promosi Beralih ke ProdukVAS

Promosi Beralih ke ProdukVAS

 

:: PELUANG PASAR MOBILE CONTENT SEBAGAI PRODUK VAS DI INDONESIA

Indonesia adalah negara kepulauan yang terbentang luas dan memiliki jumlah penduduk tertinggi ke-5 di dunia. Akan tetapi dari kesemua jumlah penduduk yang ada hanya sekitar 30% saja yang baru masih menikmati telepon seluler. Di sisi lain, Indonesia juga merupakan salah satu negara yang berkompeten dalam membuat layanan nilai tambah seperti mobile content, dan information technology (IT) lainnya. Sebab Indonesia memiliki sumber daya manusia di bidang IT yang terbilang cukup berkompeten dalam tingkat global maupun regional. Oleh karena itulah, dua bidang ini seharusnya membuat Indonesia menjadi peluang yang sangat besar dalam dunia usaha telekomunikasi seluler, yaitu dari segi konsumsi dan produksi penyedia jasa konten produk VAS.

Sebagai Pelaku Konsumen

Pertumbuhan peminat VAS atau aplikasi konten di Indonesia diprediksi akan menaik secara terus menerus. Hal ini akan terjadi sebagaimana pertumbuhan jumlah pelanggan terhadap pemakaian telepon seluler saat ini. Melihat hasil AntaraNews tentang jumlah pelanggan seluler di Indonesia, disebutkan bahwa jumlah pelanggan seluler pada tahun 2006 sebesar 63,8 juta nomor dan pada tahun 2007 mencapai 96,41 juta nomor atau dengan kata lain mengalami peningkatan sekitar 51 persen dari tahun sebelumnya. Disamping itu, teknologi 3G merupakan teknologi yang mendukung produk VAS, melihat hasil data World Bank data and MIC of Indonesian 2007 disebutkan bahwa dari 29% penduduk Indonesia atau jumlah seluruh pengguna mobile/seluler, hanya 1,1% untuk 3G atau 3,8% untuk total mobile 3G yang baru memanfaatkannya.

 

World Bank data and MIC of Indonesian 2007

Sumber : World Bank data and MIC of Indonesian 2007

Indonesia juga tergolong sebagai negara yang memiliki angka penetrasi yang cukup besar dalam industri telekomunikasi seluler yaitu sekitar 22%, sebagaimana data yang diambil dari BMI Research berikut.

 

Penetrasi Pelanggan Seluler

Penetrasi Pelanggan Seluler

Sedangkan untuk pertumbuhan market, berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pyramid Research pada tahun 2005 lalu terhadap pasar seluler di dunia, Indonesia ternyata masuk ke dalam peringkat 10 besar. Dari hasil penelitian itu di dapatkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai market seluler terbesar ke-10 dengan menguasai 2.3% pelanggan atau memiliki sekitar 51 juta pelanggan seluler yang ada di dunia. Sedangkan untuk masalah pertumbuhan pasar seluler, prediksi dari tahun 2005-2011, Indonesia masuk ke dalam peringkat 4 dunia dengan pertumbuhan jaringan teknologi seluler sekitar 4.7% atau sekitar 74 juta net additions.

 

Tabel Pertumbuhan Pelanggan dan Pasar Seluler 12 Besar di Dunia.

Tabel Pertumbuhan Pelanggan dan Pasar Seluler 12 Besar di Dunia.

Melihat data di atas, sebenarnya Indonesia merupakan negara yang berkompeten dalam meningkatkan VAS baik dari sisi pengguna maupun penyedia layanan 3G ini. Indonesia merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk yang terbilang tinggi dan belum sepenuhnya dapat menikmati layanan ini, sehingga kesempatan untuk memperoleh pelanggan seluler masih terbuka. Sebagaimana berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh BMI mengenai Industry Trends – Mobile Sector pada tahun 2004 sampai dengan 2011 di Indonesia, ternyata produk 3G sudah mulai digemari dan dilirik oleh pelanggan seluler.

 

Trend Industri Mobile

Trend Industri Mobile

Sebagai Pelaku Penyedia Jasa Konten [Content Provider]

Berdasarkan sebuah studi terbaru mengenai daya saing industri IT yang dilakukan secara independen oleh The Economist Intelligence Unit dengan dukungan Business Software Alliance (BSA) menyatakan bahwa Indonesia menempati urutan ke-14 di kawasan Asia Pasifik. BSA merupakan suatu aliansi yang beranggotakan antara lain Adobe, Apple, Dell, IBM, Intel dan Microsoft. Direktur Kebijakan Piranti Lunak BSA untuk Asia, Goh Seow Hiong, yang disertai Donny A Seijoputra, perwakilan BSA untuk Indonesia, memaparkan hasil riset yang dilakukan pada November 2006-Juli 2007. Hasilnya, selain untuk kawasan Asia Pasifik, Indonesia juga berada di urutan ke-57 di dunia dengan skor indeks keseluruhan mencapai 23,7.

Hal ini mengindikasikan bahwa Indonesia juga memiliki daya saing yang tinggi di industri IT untuk tingkat global maupun regional. Sebagaimana yang dikatakan Goh Seow Hiong, “Laporan ini menegaskan posisi Indonesia di tingkat global dan regional berdasarkan faktor-faktor tersebut dan memberikan indikasi mengenai bidang-bidang yang dapat menjadi fokus strategi pemerintah untuk memperbaiki daya saing industri TI-nya.”

 

 

:: MENCARI FORMAT VAS YANG IDEAL, EFIESIEN, EFEKTIF DAN MENARIK.

Berdasarkan hasil pemaparan di atas kita mengetahui bahwa peluang usaha VAS masih terbuka lebar, tinggal bagaimana kita dapat memanfaatkan peluang ini dengan membuat suatu format VAS yang ideal, efiesien, efektif dan tentunya menarik bagi para pelanggan seluler. Dari keadaan inilah diharapkan nantinya produk VAS seperti halnya mobile content mampu mendobrak penetrasi pelanggan seluler memanfaatkan pelayanan ini dengan maksimal. Tentunya semua itu harus ada perencanaan yang matang sebelumnya. Perencanaan pemasaran yang dilakukan dapat didefinisikan dalam 3 kategori.

 

Strategi dalam Meningkatkan Pemakaian Produk VAS.

Strategi dalam Meningkatkan Pemakaian Produk VAS.

Mencari Sasaran Mayoritas Pengguna Seluler

Dengan menembak mayoritas pengguna seluler maka kita sama halnya menguasai sebagian besar pasar. Menurut Spire Research & Consulting, jumlah pelanggan seluler di Indonesia lebih didominasi oleh golongan para remaja. Sebab dewasa ini muncul tren untuk memiliki handphone di kalangan remaja. Malahan mereka kini sudah terbiasa dengan alat yang selalu mereka bawa, bahkan pada saat sekolah sekalipun.

Kelompok remaja cenderung lebih bersifat konsumtif dan paling cepat mengikuti tren serta berbagai hal yang dianggap baru. Masih menurut Spire Reasearch & Consulting, hasil riset tentang pasar perilaku dan gaya hidup remaja mencatat rata-rata uang jajan yang dibelanjakan anak remaja per bulan sebesar Rp 133 ribu. Jika jumlah mereka yang berumur 13-18 tahun pada level kategori remaja di perkotaan jumlahnya mencapai sekitar 7 juta jiwa, maka bisa dibayangkan betapa besar potensi pasarnya. “Jika dilihat dari sisi konsumsi langsungnya saja, pasar remaja saat ini diperkirakan bisa mencapai Rp 10-12 triliun rupiah,“ kata Jeffrey Bahar, Managing Director Spire Research & Consulting untuk Asia Tenggara.

grafikkepadatan Berdasarkan hasil survei, mayoritas remaja dari lima kota besar di Indonesia (meliputi Jakarta, Semarang, Surabaya, Medan dan Makassar), remaja memilih handphone yang memiliki kelengkapan fitur. Sebab saat ini handphone bukan lagi fungsinya yang sebagai media komunikasi untuk berkirim SMS atau sekedar menelpon, akan tetapi juga sebagai media informasi dan hiburan seperti game, office, chatting, berinternet, dan lain sebagainya. Selain itu pula menurut Spire Research & Consulting, salah satu faktor utama ketertarikan para remaja terhadap produk seluler dikarenakan tarif murah dan konten yang menarik. Oleh karena itulah, produk VAS pada telepon seluler menjadi andalan yang memiliki peluang usaha cukup besar. Apabila jika mayoritas pelanggan (remaja) dapat dikuasai maka minoritas dari pelanggan pun secara tidak langsung akan terbawa, meskipun kita juga tidak boleh mengesampingkan kebutuhan minoritas pelanggan.

Mengukur Daya Beli Pelanggan.

Jika kita melihat remaja sebagai sasaran utamannya ada satu hal yang juga harus diperhitungkan, yaitu dari segi biaya. Kebanyakan mereka membeli pulsa dalam nominal sekitar Rp 10.000-25.000. Besarnya uang jajan yang diterima menyebabkan mereka membeli pulsa dalam nominal yang relatif sedikit. Akan tetapi sebaliknya, apabila dibandingkan dengan frekuensi pengisian pulsa, mereka tergolong lumayan dengan rata-rata 1-2 kali dalam seminggu, sehingga dalam sebulan kebanyakan remaja mengisi pulsa rata-rata sebesar Rp 50.000 hingga Rp 100.000.

Dengan demikian para operator seluler harusnya dapat menawarkan konten sebagai produk VAS yang dapat terjangkau oleh kalangan remaja, kalangan dominan pengguna seluler di Indonesia. Kalau memang di satu sisi harga konten tersebut cukup tinggi maka ada baiknya penawaran dilakukan dengan sistem pembayaran langganan secara berkala.

Mencari Solusi dari Pemasangan Iklan dalam Produk VAS

Menurut hasil analisa, ketertarikan pelanggan memakai produk VAS dari operator hanya diminati ketika masa promosi karena sebagian konten yang ditawarkan secara gratis. Akan tetapi, setelah masa promosi habis dan harus dikenai charge maka pelanggan pun beralih. Kesimpulannya, para pelanggan akan merasa enggan apabila harus merogoh uangnya untuk menikmati suatu konten tertentu apalagi harganya yang terbilang mahal dan tidak menarik.

Para operator sebenarnya dapat mengatasi masalah ini dengan membuat suatu konten produk VAS yang bekerjasama dengan pihak sponsorship untuk membiayai penyelenggaraan pengadaan produk VAS. Dengan begini, para pelanggan tidak perlu lagi merogoh uangnya untuk menikmati produk VAS karena semua biaya itu ditanggung oleh pihak sponsor. Penta Media yang mengembangkan aplikasi Indonesia on the Go (InGo) juga tak melihat konten sebagai sasaran penghasilan. Justru mereka memilih untuk memperoleh pendapatan dari iklan advertorial yang disisipkan di antara konten-konten tersebut. Menurut delapan finalis Peer Award, penghargaan kompetisi aplikasi konten seluler oleh Mobile Monday, umumnya mereka berpendapat bahwa pada bisnis seluler konten sebenarnya bukanlah komoditas yang dijual. Layaknya model bisnis di Internet, pelanggan seluler seharusnya dapat mengakses konten secara cuma-cuma. Hal ini juga dapat digambarkan sebagaimana menonton acara di televisi yang tanpa membuat pemirsa harus mengeluarkan uang untuk menikmatinya, akan tetapi keseluruhan biaya operasional di dapatkan dari iklan yang ditayangkan.

 

Solusi Membebaskan Biaya Langganan Pemakaian Produk VAS untuk Pelanggan.

Solusi Membebaskan Biaya Langganan Pemakaian Produk VAS untuk Pelanggan.

Mengidentifikasi Kebutuhan Pelanggan

Kalau kita melihat dari sisi konten, ada banyak produk VAS yang dapat dieksplor dan ditawarkan kepada konsumen. Akan tetapi dari kesemua jenis konten VAS yang ditawarkan, situs handphone.co.id memperkirakan ada 5 jenis konten pilihan yang akan booming ke depannya. Konten pilihan tersebut antara lain dari yang tertinggi, yaitu :

Ringbacktone (RBT)

Berdasarkan hasil wawanacara Bisnis Indonesia dengan Sapto Anggoro, Sekjen Indonesian Mobile & Online Content Provider Association (Imoca), mengatakan “Sekitar 80% dari omzet tersebut berasal dari layanan ringbacktone.” Jika perkiraan itu benar, maka omzet bisnis konten nada tunggu panggilan telepon mencapai sekitar Rp 2,4 triliun, tambahnya. Suatu angka sangat yang tinggi. Ringback Tone belum mengalami titik jenuh pada tahun depan. Bahkan dengan kemudahan yang dilakukan operator untuk pendaftaran ringbacktone, menjadikan konten ini makin menarik minat pencipta lagu, penyanyi atau perusahaan rekaman.

Mobile Messenger

Komunitas virtual yang selama ini telah terbangun lewat internet, seperti Yahoo!Messenger atau MSN Messenger ikut mendorong tumbuhnya layanan mobile messenger. Apalagi dengan melalui mobile messenger kita dapat berkirim pesan jauh lebih murah dengan jangkauan yang lebih luas, sebab tidak hanya menjangkau HP tapi juga komputer.

Music Download

Perlahan tapi pasti, music download akan menjadi konten favorit mengikuti sukses ringbacktone. Teknologi mobile akan makin banyak dipakai oleh para perusahaan rekaman sebagai salah satu kanal untuk distribusi konten musiknya. Di luar negeri, internet sebagai kanal distribusi musik melalui download sudah sangat populer.

Interactive Games

Game-game HP sekarang ini makin bervariasi dan memiliki tampilan yang makin menarik. Selain itu, sudah mulai banyak beredar game-game yang bisa dimainkan secara multiplayer dan melibatkan teman melalui komunitas internet yang saat ini menjadi populer. Hal ini menjadi suatu peluang untuk memanfaatkannya lewat HP, baik lewat bluetooth maupun GPRS dan 3G sebagai instrumen VAS.

Mobile Advertisement

Layanan konten yang berisikan informasi-informasi advertisement saat ini di indonesia memang belum dimaksimalkan sepenuhnya. Akan tetapi layanan ini diprediksi akan menjadi layanan konten yang menggiurkan. Mengingat saat ini jumlah pelanggan seluler di Indonesia mencapai sekitar 90 juta pelanggan, ini merupakan pasar yang sangat potensial. Di luar negeri, mobile advertisement sudah digarap dengan serius dan menghasilkan pendapatan yang cukup signifikan bagi operator. Bahkan mobile advertising diperkirakan akan menyalip internet marketing dan advertising tradisional.

Kesimpulannya, peluang usaha seluler di Indonesia memberikan kesempatan terbuka yang sangat potensial bagi para operator. Sekarang tergantung dari para operator seluler bagaimana cara mereka dapat memikat dan menarik minat masyarakat untuk bergabung. Semakin banyak yang bergabung dan memanfaatkan layanan mereka, maka semakin naik pula pendapatan yang mereka dapatkan. Kalau selama ini para operator masih bersaing dengan cara berkutat di masalah pentarifan hal ini tidak akan membuat para pelanggan lebih melirik karena sebagian besar merasakan titik jenuh dan mengganggap iklan-iklan promosi pentarifan terkesan membodohi pelanggan serta berlebihan. Adapun salah satu cara yang efektif adalah dengan memberikan pelayanan nilai tambah atau VAS dengan produk konten yang entertainment, dan edukatif pada setiap produk mereka. Sebab pelanggan senang terhadap produk-produk baru yang menarik dan lebih mencerdaskan mereka. Semoga tulisan ini dapat menjadikan suatu pertimbangan bagi para operator seluler di Indonesia untuk bersaing secara cerdas, kompetitif dan produktif untuk kemajuan bangsa. Amin

Oleh :

ARIF FIRMANSYAH, Mahasiswa Bidang Studi Telekomunikasi Multimedia, Jurusan Teknik Elektro – Fakultas Teknologi Industri, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Kampus Sukolilo 60111 – Surabaya

 

 

 

 

Comments
  1. muhyin says:

    wah……………panjang banget tulisannya……..

    but,,keren pak……tulisan mu oke lah…..

    ntar2 aq kasih komen lagi deh

  2. Thanks ya for comment…

  3. analisa yang tajam. Kalo postingan panjang dibuat berseri aja rif

  4. Wah iya ya… Thanks atas sarannya…

  5. Kembali lagi memang perlu dicermati lagi mengenai regulasi…karena layanan bentuk apapun dengan regulasi yang mengikat apalagi membatasi, akan menjadi hambatan perkembangan teknologi konten sendiri.

    Pembahasan yang cukup menarik🙂.

  6. Oleh karenanya sebelum menetapkan regulasi, seperti yg saya tahu pemerintah terutamanya melalui Depkominfo mensosialisasikan draft regulasi tsb…
    Untuk mendapat tanggapan dan respon dari masyarakat terutama bagi yg berkepentingan…. agar sama-sama merasa diuntungkan antara pemerintah, masyarakat dan pelaku industri…

    Jadi tdk perlu kuatir akan regulasi-regulasi yg telah dikeluarkan tetapi memang perlu untuk dicermati sebelum benar-benar ditetapkan atau dikeluarkan…🙂
    Smoga smakin berbenah mnjadi yg terbaik.

  7. Samudra Prasetio says:

    Bravo…. tulisannya bagus & penuh dgn data sebagai dasar. Namun untuk kesimpulannya agak kurang setuju terutama “…Kalau selama ini para operator masih bersaing dengan cara berkutat di masalah pentarifan……”.

    Bbrp alasannya:
    1. Operator tetap memahami bahwa tarif punya sensitivitas tersendiri atas customer yang diproyeksikannya. Karena disanalah real money comes…. namun Operator juga punya strategi dimana setiap tarif murah maka pelanggan digiring untuk akses content yang ada:)
    2. Packaging tarif amat sangat berbeda dgn packaging content – dimana tarif dimainkan oleh Operator sementara Content lebih banyak dimainkan oleh Content Provider. Contoh kasus bisa banyak dilihat pada iklan mobile content, mis: reg spasi manjur, reg spasi ramal dsb, iklan nomor id RBT dsb…. bisa dipastikan bahwa yang mengiklankan adalah Content Provider, bukan Operator itu sendiri. Selain itu penetapan tarif oleh Operator juga dipengaruhi oleh aturan yang ada, adapaun harga dari suatu content ditetapkan dgn prinsip suka-suka oleh Content Provider…
    3. Kedepan, Operator bisa dikatakan semakin tidak berdaya dgn VAS yang content dominant – dimana yang akan menentukan bukan lagi Operator melainkan yang punya content itu sendiri. Sebagai ilustrasi: katakanlah saat ini sedang booming film “Kuntilanak Punya HP”, berkat management yang baik maka diprediksi film ini bakalan meledak. Tentunya produsen film ini akan punya super power dlm menentukan jaringan bioskop (Cineplex, Megablitz, XXI dan 21) mana aja yang boleh memutar film katro tersebut. Tentunya dapat dipastikan yang paling besar sharing dan insentif lainnya yang menarik yang akan diijinkan untuk muter film “Kuntilanak Punya HP” ini….. , case lain adalah launching HP IPhone – dimana Operator di Indonesia saling berlomba untuk bisa dapat licence exclusive dari Apple – dan ternyata yang dikasih cuman TSEL. Case lainnya adl Blackberry (tentunya semuanya yang official license). Wuiih… seandainya boleh nyeritain kisah didalamnya akan gokil habis deh…..😀
    4. Waduh masih banyak euy…. tapi kedepan – operator yakin VAS memang harus dimanage – tapi pengalaman sampai dengan saat ini layanan voice tetap menjadi dominant revenue. Baru disusul SMS (SMS ini dianggap sbg VAS juga lho… dan jangan salah dgn SMS ini dimana bisa nyumbang 5T bagi operator X yg punya pelanggan AB juta, ataupun 800M bagi operator Y yang punya pelanggan CD juta).

    Walah kepanjangan ya… better to stop first deh kl gitu
    Salam diskusi content🙂

  8. Wah bagus skali mas ulasannya… meskipun panjang tapi asyik utk dibaca…
    Memang ke depan VAS akan menjadi peluang bisnis content provider yang akan bergairah….

  9. Lely says:

    artikel oke…boleh kan untuk tambahan makalah ku?? makasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s