Archive for August, 2011

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H

Posted: August 30, 2011 in Quotes

Barangkali ada prasangka pernah terbesit, ada kata salah terucap, dan tingkah laku yang kurang berkenan, saya dan keluarga meminta maaf atas semua khilaf, semoga dengan ini kita semua kembali fitrah.

Arif Firmansyah dan keluarga.-

***

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Taqobbalallahu Minna Waminkum

Advertisements

Bro, zaman sekarang semua cewek matre!!

Wahai pria idaman,

Pilihlah pasangan hidup yang menganggap harta itu penting, dan sekaligus mengerti bahwa harta bukan segalanya. Jadikan itu cambuk agar dirimu tidak bermalas-malasan dan bersembunyi dibalik keindahan cinta.

Sehingga pada akhirnya wanitamu akan berkata,
“Kalo abang ada uang, abang disayang.
Kalo abang nggak ada uang, terus berjuang ya sayang! ^^ ♥ “

Sumber: Kata Inspiratif

It’s Time to Change

Posted: August 23, 2011 in Quotes

“IT’S TIME TO CHANGE…!!!”

Terkadang aku ingin menghentikan umurku agar tidak bertambah dan ingin kembali ke masa-masa lalu. Tapi seperti inilah hidup… berjalan terus tanpa peduli bahwa kita butuh waktu sejenak untuk berhenti.

Sebenarnya setiap detikpun umurku berkurang, hanya saja saat ini usiaku jadi genap seperempat abad dan selama itulah usiaku sudah berkurang.

“Kemarin adalah PELAJARAN, Hari ini adalah TANTANGAN, dan Besok adalah IMPIAN”

It’s time to change untuk bisa merebut impian. Masih banyak impian dan cita-cita yang belum aku capai, semoga di sisa umur ini semuanya dapat aku raih.

Terima kasih atas semua doanya hari ini, dan semoga sukses juga untuk rekan-rekan semua.

Hanamasa – Cibubur, Jakarta. Penulis ada di urutan ketiga dari kiri (pakai kacamata) dan tentunya yang terlihat paling tampan rupawan seperti nampan. Kali ini aku bercerita tentang pengalaman buka bersama, maklum akhir-akhir ini aku punya jadwal padat sekali jadi sering sibuk diajak untuk buka bersama… (*biasa artis sok penting dan sibuk.. :D)

Hari itu adalah pengalamanku kedua kalinya aku makan di tempat rumah makan yang memiliki nama agak ke-japanese-an gitu, Hanamasa namanya, baru dua kali..?? iya baru dua kali selama aku hidup membujang, maklum aku lebih cinta sama makan-makanan Indonesia ketimbang sama makan-makanan ala luar (halah… sok nasionalis #semangat 17an.. padahal wong ndeso… hehehe). Pertama kali makan di sana, aku melakukan salah strategi di awal, ibaratnya peperangan aku sudah mati duluan di medan perang karena terkena tembak terlebih dahulu, sudah jatuh mati sebelum waktunya. Mengapa begitu? karena aku sudah merasa kenyang duluan malah hampir mau muntah sebelum merasakan makanan yang enak lainnya.
MySpace

Nah, kalau bagi yang belum tahu apa itu Hanamasa akan aku coba jelaskan sekilas, barangkali saja ada juga yang lebih parah dari aku… ckckckck (barangkali juga, dengan ini aku bisa sekalian dapat promo gratis makan-makan di Hanamasa karena sudah mempromosikannya.. *ngarep.com).

Hanamasa itu tempat rumah makan yang mana setiap orang yang masuk di sana bisa mengambil semua makanannya sendiri (dan masak makanannya sendiri) sepuas-puasnya dengan hanya satu kali bayar (ya mungkin seharga 10 nasi bungkus di warteg) dan tentunya harus dimakan di situ, tidak boleh dibungkus bawa pulang (kecuali kalau tidak ada yang tahu..hehe). Terserah mau ambil yang mana, ntah kita mau ngambil makanan satu piring penuh bisa, buah-buahnya satu keranjang juga bisa, atau daging sapi satu truk tronton malah juga bisa (kalau ada orang yang seperti ini —> kemaruk -_-“).

Dan perlu diinget kalau kamu makan di Hanamasa, kamu harus jadi orang yang bertanggung jawab terlebih dahulu. Jadi bagi kamu yang punya pacar gonta-ganti (kaya’ casing HP), pernah punya rencana ngehamilin kucing tetangga, suka kentut sembarangan, pokoknya jenis orang yang tidak bertanggung jawab deh sangat tidak cocok untuk makan di sini, kuatirnya ntar ambil makanan dan tidak dihabiskan –> mubadzir jadinya… *pengalaman pertama pribadi.. hehehe

Jadi intinya, kalau kamu orangnya punya nafsu yang gede (*nafsu makan maksudnya) atau doyan makan silahkan saja untuk coba makan di Hanamasa, tetapi kalau kamu tidak doyan makan jangan coba-coba makan di sini mending makan di warteg saja, karena uang yang kamu bayarkan tidak akan sepadan dengan yang kamu makan. Semakin banyak yang kamu makan semakin untung kamu dan semakin rugi Hanamasa, sebaliknya semakin sedikit yang kamu makan maka semakin untung Hanamasa. Tapi ingat jangan banyak-banyak ntar malah jadi gemuk seperti gini…

Strategi 1 – Jangan makan pakai nasi di awal

Kalau perlu makan tidak usah pakai nasi, makan pake lauk saja juga bisa membuat kenyang. Orang Indonesia cenderung kalau belum makan nasi belum makan namanya, nah sugesti atau kebiasaan seperti ini kalau bisa dihilangkan dulu, anggap saja kita orang luar yang nggak doyan makan nasi, (orang luar = luar angkasa maksudnya.. :D), atau anggap saja kita nggak level makan nasi, atau juga anggap saja kita nggak punya uang untuk beli beras… nah kalau begini kan kita jadinya nggak pernah nyentuh tuh nasi.

Strategi 2 – Dahulukan makan yang paling enak menurutmu dan yang pingin dicoba

Aku punya kebiasaan makan yang tidak biasa dan mungkin beberapa orang cenderung punya kebiasaan yang sama dengan aku. Kalau ada makanan yang enak biasanya aku makan tuh makanan giliran terakhir, aku dahulukan yang aku anggap nggak enak. Nah kebiasaan yang seperti ini juga harus dihindari untuk sementara.

Strategi 3 – Minum secukupnya dan hindari minuman yg bisa buat kenyang

Hanamasa juga tidak bodoh, mereka tahu bagaimana memperlakukan pelanggannya agar mereka bisa cepat kenyang. Jadi kebanyakan yang disajikan di sana itu makanan yang bila dimakan sedikit bisa membuat langsung menjadi kenyang (*menurutku). Tidak hanya makanan, minuman di sana pun disajikan cukup enak, tapi kalau kita kebanyakan minum tanpa makan pun kita juga sudah merasa kenyang. Contoh minuman yang bisa membuat cepat kenyang adalah semacam es jus, susu, dan beberapa lainnya.

Strategi 4 – Kalau kenyang istirahat dulu

Perut punya kapabilitasnya sendiri dan berbeda tiap orang, adakalanya aku melihat jumlah makanan yang ada di piring dengan ukuran perut tidak imbang, tapi aku herannya semua makanan bisa saja tuh masuk ke perutnya, apa jangan-jangan di dalam perut ada pintu rahasia dan pintu masuk kemana saja… hihihi. Oh ya, hawa nafsu untuk makan harus tetap dijaga, ambil secukupnya dulu dan makan, habis ambil secukupnya terus makan, jangan langsung ambil yang banyak. OK??

Ini strategi dari aku sih, mungkin kalau pembaca punya strategi lain yang lebih maknyus silahkan di-share di sini, bahkan strategi gila sekalipun.
MySpace

Quote dari aku :

“Pengalaman menurutku bukanlah guru yang terbaik, karena guru yang terbaik seharusnya mengajarkan dan memberikan arahan kepada kita terlebih dahulu sebelum melepaskan murid-muridnya untuk melakukan sesuatu agar kesalahan-kesalahan yang kita hadapi bisa dihilangkan atau paling tidak direduksi semaksimal mungkin.”

MySpace

Cerita jalan-jalan ke Bandung (part II) ini sebenarnya merupakan lanjutan dari kisah jalan-jalanku ke Bandung yang sebelumnya pernah aku tulis, kalau ingin melihat keseruan cerita sebelumnya bisa klik di sini.

Sebenarnya tujuan aku pergi ke Bandung ada yang jelas dan ada sebagian yang gak jelas-jelas banget, mirip wajahku kalau dilihat dari atas Monas *_*, apalagi kalau waktu malam hari. Ini beberapa tujuanku jalan-jalan ke Bandung :

1. Refreshing hati dan refreshing mata

Ntah kenapa setelah sampai di kota yang terkenal dengan sebutan Paris van Java ini, seolah-olah aku merasa ada yang beda dan enak untuk dilihat, atau karena setiap yang aku lihat adalah pemandangan semua, dan semua pemandangan itu rata-rata pegunungan, mulai dari gunung yang terlihat di pematang sawah sampai ‘gunung kembar’ yang terlihat banyak di tempat-tempat obyek wisata…. (nah lho gunung kembar apaan yang ada di tempat obyek wisata.. :D), dan yang jelas udaranya sejuk dan dingin, itu yang paling aku suka.

2. Survey mojang Bandung

Banyak orang bilang selain pemandangan alamnya yang bagus, cewek-cewek Bandung juga cantik-cantik atau istilah Sundanya mojang-mojang Bandung itu geulis-geulis euy… (*padahal dalam bahasa jawa geulis itu pengucapannya jadi gelis, yg tidak lain artinya gelis = cepat, jadi nggak ada salahnya bisa diartikan bahwa cewek-cewek Bandung itu cepat-cepat, emang atlet pelari cepat apa… -_-” maksa hehehe). Kesimpulan dari akulturasi bahasa Sunda dan Jawa, jadinya cewek-cewek Bandung itu cantik-cantik dan rata-rata adalah atlet pelari cepat…  (*tetap masih maksa -_-” gabungin arti yg malah tidak bermakna).

Hasilnya memang benar apa kata orang sebagian besar cewek di Bandung (atau Sunda) itu cantik-cantik, bisa atuh dijadikan referensi teman pendamping hidup… 😀 hehehe. Gak salah kalau kota ini akhirnya dijuluki Kota Kembang. Hanya saja study bandingku waktu itu tidak sampai meneliti lebih lanjut tentang kehidupan mereka karena nggak bisa lama-lama di sana. Bagiku kecantikan fisik bukanlah satu-satunya hal yang mutlak, melainkan kecantikan hati yang paling penting… *cieeelaa, tapi kalau bisa menemukan dua-duanya kenapa tidak… *maunya
MySpace
*oh ya foto yang di atas itu bukan aku sendiri yang ambil tp aku ambil dari internet, aku mana berani coba ngambil foto kaya gitu, takutnya setelah foto’in mereka malah aku nanti dikejar-kejar minta tanda tangan lagi.. 😀

3. Berkunjung ke Gedung Sate

Dulu ketika waktu aku masih kecil, pertama kali mendengar istilah Gedung Sate yang terlintas dipikiranku itu macem-macem, pernah terlintas gedung sate itu gedung yang di dalamnya digunakan untuk tempat berjualannya sate dan isinya penuh dengan orang-orang Madura… 😀

 + =    

Eh setelah usut punya usut aku baru tahu kalau gedung sate itu bukan tempatnya orang jualan sate atau semacam tempat kuliner gitu tapi ternyata tempatnya orang yang suka makan sate… hehehe *eh salah lagi ya. Ternyata yg benar adalah merupakan Gedung Pemerintahan Gubernur Jawa Barat, jadi kesimpulannya jauh sekali dan tidak ada hubungannya dengan orang Madura dan makanan sate.

Sebenarnya dari awal tidak ada rencana mau jalan-jalan ke Gedung Sate, tapi lha koq malah kesasar ke sini. Memang beginilah kalau orang tidak punya rencana, hidupnya kaga’ jelas. Pesan moral:“Mumpung masih muda, marilah buat impian dan rencana masa depanmu agar hidupmu kelak lebih terarah”

4. Cari warung makan

Jauh-jauh ke Kota Kembang, aslinya aku juga mau pindah warung makan dari Jakarta ke Bandung (alias mau kuliner) sekalian pindah tempat WC.. hehe. Siapa sangka ternyata perjalananku ke Gedung Sate tidak sia-sia, karena tepat di depan gedung itu ada area yang sangat luas, banyak juga orang-orang dari berbagai usia, mulai dari kakek-nenek, pak de-bu de, anak kecil, orang dewasa, muda-mudi, pria-wanita sampai waria… :D. Mungkin menurut aku tempat ini biasanya aku kenal dengan nama alun-alun, tapi ternyata orang bilang itu adalah Gazebo… (mungkin karena tempatnya yang Gak Zelas Boo’). Berbagai macam aktivitas juga banyak ditemui, ada yang main bola, ada yang jualan makanan, ada yang pingin foto-foto (red: narsis), ada orang yang cuman mampir cari WC, bahkan sampai ada juga yang memadu asmara (red: pacaran) dipojokan-pojokan… hadeeh -_-“. Makanya itu aku tidak heran kalau tempat ini akhirnya diberi nama Gazebo (Gak Zelas Boo’).

Setelah lama muter-muter gak jelas lihat-lihat lokasi di situ, saatnya mau cari sesuatu yang bisa di makan. Jauh-jauh ke sini aku gak mau cari makanan yang biasa-biasa saja dan sering ditemui di Jakarta, maunya sih makan makanan yang aneh-aneh khas Bandung gitu, seperti tai kucing selai keju, es duren sari air liur, atau saus kepiting bumbu ingus (*kalau ada). Akhirnya nemu juga makanan yang aneh dan ini pertama kalinya aku makan makanan ini, “Tahu Gejrot” namanya (meskipun di Jakarta sepertinya juga ada ya). Meskipun isinya hanya tahu, jangan salah harganya bisa sampai Rp 5.000,- per porsinya.

Tahu Gejrot termasuk makanan yang memiliki kategori kejam dan penuh aksi anarkis, karena tahu yang begitu lugunya langsung disobek-sobek bercerai berai begitu saja, setelah itu digilas-gilas dengan cobek tapi tidak sampai hancur. Bagi orang yang tidak terbiasa melihat aksi yang kejam seperti ini, jangan sekali-kali melihat proses membuatnya apalagi melototi orang yang jual. Kemudian tahu itu siap disajikan dengan bumbu yang mereka bikin dengan bawang merah, campuran air asam ditambah gula merah. Pertama coba memang enak sekali sampai 3-4 lahapan, tapi lama-kelamaan ternyata rasanya bikin orang jadi bete, seperti tiba-tiba tersambar petir di siang bolong.
MySpace

5. Silaturahim ke rumah Saudara

Kisah perjalananku di Bandung tidak akan berjalan mulus kalau tidak ada saudara di sana, untung dengan ada saudara di sana aku bisa mencari referensi dan bantuan. Tapi sejak saat itu sebenarnya aku bepergian liburan tidak sebebas-bebasnya orang yang sedang liburan, karena sesampai di rumah saudara ternyata aku malah lebih mirip jadi seperti pengasuh anak (*mengasuh anak-anaknya tanteku.. -_-“), gak papa setidaknya dengan begini bisa belajar bagaimana nanti jika punya anak biar nggak kaget.. (padahal istri aja belum ada -_-“).

*Cerita setahun yang lalu, yang baru sempat ditulis sekarang. JUST WRITE.-

 

Ternyata seru juga menjadi Backpacker. Jalan-jalan ke Bandung adalah pengalaman pertama kalinya aku menjadi Backpacker dengan bepergian sendiri (*ya beginilah nasib perjaka rantau kemana-mana selalu sendiri -_-“) dengan tujuan yang tak jelas kemana seperti orangnya (baca: aku).

Ada banyak sekali cerita seru yang aku dapatkan selama jalan-jalan ke sana, mulai dari cerita yang bikin ketawa sampai cerita bikin orang kesel, cerita mulai pingin nginjek kakinya orang eh malah kena injek duluan, dan cerita mau sok-sok’an pakai bahasa Sunda eh malah bingung sendiri diajak ngomong bahasa Sunda (padahal kemampuan bahasa Sunda-ku gk jauh-jauh dari aya’ naon, kumaha’, damang, ini teh susu… aa’ mau susunya teh… lho3x, maunya :p)
MySpace

Pesan 1st : Jangan sekali-sekali mengajak ngobrol orang Bandung pakai bahasa Sunda jika kita belum bisa berbahasa Sunda. Mereka ngomong bahasa Sunda, kita hanya bisa.. hah.. heh.. hah.. heh.. kaya’ orang blo’on, maksud hati mungkin ingin beli sesuatu menawar pakai bahasa Sunda supaya dapat barang lebih murah (*persepsi kebanyakan orang) eh tapi malah yang didapat kita jadi semakin bingung.

Sebenarnya kalau pingin bepergian ke Bandung dari Jakarta gak mahal-mahal amat, cukup bawa Rp 60.000.- udah sampai sana (tapi habis itu gak bisa kembali lagi… hihihi), tapi ini lain lagi kalau mau bawa sepeda motor sendiri atau berpergian dengan kendaraan pribadi sendiri lainnya. Ada juga cara yang nggak pakai bayar sama sekali, tapi hanya perlu keberanian, nggandol truk misalkan, atau pura-pura jadi pedagang asongan di kereta api ekonomi atau lebih nekat lagi naik ke atas atap kereta juga bisa… hehehe, tapi dua cara yang terakhir ini not recommended lho, aku tidak mau bertanggung jawab kalau nanti di televisi atau koran muncul berita ada anak muda jatuh dari truk atau tergenjet di gerbong kereta api ingin bepergian ke Bandung karena setelah mengikuti saran dari sebuah blog apalagi lebih-lebih bawa nama blogku.

MySpace

***

Kisah seru berawal dari ketika berangkat menuju Bandung aku memakai kereta ekonomi “Serayu”, sampai-sampai aku tidak bisa membedakan ini di dalam kereta api atau di dalam (maaf) kandang yang penuh sesak. Mungkin beda-beda tipis dengan acara konsernya Justin Bieber kali ya, kalau di sini penuh sesaknya berdempet-dempetan dengan mak-mak, kakek-nenek, bapak-ibu yang kebanyakan memakai “parfum” minyak angin dan pingin sekali menghindar berharap cepet-cepet sampai tujuan. Sedangkan kalau di konsernya Justin Bieber kita berdesak-desakan dengan para ABG yang cantik-cantik, bening-bening dan memakai parfum yang wangi-wangi serta berharap untuk selalu didempet dengan pasrah dan berdoa supaya acaranya tidak cepat-cepat selesai… hehehe (*kaya’ pernah ikutan lihat konsernya Justin Bieber saja)

Pesan 2nd: Kalau mau bepergian selalu-lah berada duduk di dekatnya cewek cantik biar hati selalu tenang dan nyaman bahkan kamu akan terkena bau wangi parfumnya meskipun kamu belum mandi dan bau apek.. :D, tapi kalau kamu berdekatan dengan mbah-mbah, bapak-bapak atau ibu-ibu kamu akan terkena baunya minyak angin dan jika kamu tak tahan baunya akan membuat kamu menjadi tidak nyaman… hehe
MySpace

Kembali ke topik, sebenarnya aku tidak ada rencana untuk naik kereta ekonomi “Serayu” ini, cuman karena hanya satu-satunya kereta ini yang bisa mengantarkan aku langsung menuju Kiara Condong (Bandung) akhirnya aku naiki saja… *ngeles. Kalau tidak salah harga tiketnya sekitar 20-30 ribu, cukup tidak sepadan dengan fasilitasnya. Kebetulan karena aku belinya agak mepet dengan jadwal keberangkatan otomatis aku dapat tiket “bebas tempat” duduk, yang artinya bisa duduk dimana saja selain di kursi (alias tiket berdiri), di WC bisa, di antar gerbong bisa, bahkan sampai di atap kereta sekalipun kalau mau juga bisa, sayangnya duduk di pangkuan cewek nggak boleh… -_-” . Alhasil aku harus berdiri sampai sekitar 3-4 jam (mulai dari jam 8 malam sampai jam 12 dini hari), saking lamanya berdiri sampai-sampai aku mati gaya harus berdiri dengan gaya seperti apa lagi, kalah dengan lamanya tentara yang harus berdiri terus waktu upacara.

Penderitaanku berlanjut ketika sampai di stasiun Kiara Condong, karena kereta datang pas dini hari saudaraku tidak bisa menjemput dan akhirnya aku terpaksa harus tidur di stasiun untuk pertama kalinya.

Tapi bagiku kereta ekonomi itu mirip seperti toserba (toko serba ada) di atas rel, semuanya ada mulai dari ada yang jualan peniti, potongan kuku sampai jualan boneka-bonekaan, mulai dari yang ada jago puisi sampai jago nyanyi dangdut (alias pengamen), mulai dari profesi karyawan swasta (baca: aku) sampai tukang pijet, mulai dari ada yang bawa beras sekarung sampai bawa ayam hidup. Dengan beginilah aku sangat-sangat mengetahui bagaimana ‘orang cilik’ bertahan dan bisa survive dengan kehidupan mereka, dan seharusnya pemerintah harus lebih berpihak dengan kegiatan-kegiatan ekonomi ‘orang cilik’ bukan dengan malah membuat mall-mall besar yang mematikan ekonomi rakyat kecil.

Meskipun begitu ada beberapa hal yang membuatku suka dengan naik kereta ekonomi adalah penumpangnya, penumpang di kereta api ekonomi itu berbeda dengan penumpang yang ada di kereta api sekelas bisnis ataupun penumpang sejenis pesawat. Penumpang di sini lebih suka berinteraksi, ramah, dan suka bercanda yang berbeda dengan penumpang sekelas “orang kaya” yang sangat sok jaim, yang kecenderungan selalu dalam pikirannya “emang loe siapa”, “emang gue pikirin”.

***

Mengingat masih terlalu panjang dan lebarnya tulisan kisah perjalananku di Bandung, untuk kelanjutan cerita serunya kalian bisa lihat dan klik di Jalan-jalan ke Bandung (Part II). Karena biasanya kalau terlalu panjang aku merasa kasihan kepada ibu-ibu dan kalau terlalu lebar aku juga jadi kasihan sama bapak-bapaknya, sama-sama tidak merasa enak (hanya orang-orang berusia 17+ yang paham dengan kalimatku yang terakhir). Kalau bapak-bapak sukanya cerita yang singset-singset (singkat) dan ibu-ibu sukanya sama cerita yang memiliki berbobot gede-gede (banyak makna)… hihihi

Seorang wanita berbicara dengan kekasihnya, ”Sayang, nikah yuk?”
Kekasihnya menjawab, ”Nanti dulu ya neng, ntar abang nggak bisa membahagiakan kamu.” Dalam hati kekasihnya berkata, kalau aku menikah pasti aku nggak akan bebas lagi. Sang wanita pun hanya bisa pasrah.

Di lain tempat ada seorang muslimah sedang ber-FB an ria dengan seseorang yang dia sebut ikhwan. Muslimah itu pun mengirimkan pesan, ”Kapan antum ke rumah ana, akh? kita tidak akan seperti ini terus kan akh?”
Ikhwan itu pun membalas, ”Sabar yaa ukhti, ana pasti akan datang ke rumah anti, hanya ana ingin agar anti mau menanti ana sampai selesai kuliah lalu bekerja. Bila ini memang cinta, sungguh anti pasti sanggup menanti ana.”
Si ikhwan dalam hati berkata, kalau aku lulus kuliah itu 4 tahun lagi, terus nanti cari kerja kira-kira 2 tahun. Bisa nggak ya?
Muslimah itu pun meski ragu tapi tetap menerima dengan dalih karena cinta.

***

Berapa banyak laki-laki atau wanita yang beralasan seperti di atas, berapa banyak muslim atau muslimah yang tidak jelas alasannya. Diajak menikah alasannya banyak dan berubah-ubah, dari yang belum cocok jadi meng-halalkan pacaran dengan dalih ingin mencari yang cocok. Atau menanti tanpa batas waktu dengan dalih ta’aruf, padahal tak ada bedanya dengan mereka yang pacaran.

Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Kalau memang belum sanggup untuk mengikat seseorang dalam sebuah hubungan halal yakni Pernikahan, tak perlulah kamu rela dikerubuti syetan yang akan membawamu pada perzinaan.

Hilangkan pikiran untuk pacaran yang akhirnya hanya akan membuatmu terpuruk pada kesemuan cinta. Awalnya memang meyakinkan akhirnya menyesakkan, hanya karena alasan ketidak cocokan atau karena dia bukan orang yang tepat buat mendampingimu. Sampai kapan hal itu akan menjadi alasan untuk meng-halalkan pacaran?

Pupuskan dahulu untuk berta’aruf, agar tidak adanya seseorang yang menantimu sepanjang waktu sedangkan kamu tidak tahu sampai kapan bisa mewujudkannya. Jangan membuat dalih-dalih untuk membuatnya menunggu atas nama cinta, padahal kamu tidak siap untuk melamarnya. Semua ini hanya akan menambah kegalauan dan kekecewaan bahkan menghancurkan hidup orang lain.

Apabila memang kamu sudah siap, segera halalkan lah hubunganmu, namun bila kamu belum siap untuk menikah, maka jagalah hatimu dahulu. Jangan kamu umbar janjimu padahal kamu tahu kamu belum mampu menepatinya.

Pikirkanlah lagi bila kamu ingin menerima ta’arufan dari laki-laki, padahal kamu tahu bila kamu harus menanti ketidakpastian. Iya kalau memang penantianmu ada hasilnya, kalau tidak? kamu hanya akan membuang waktu. Apabila dia ingin serius denganmu, dia tidak akan membiarkanmu dalam ketidakpastian.

Di suatu rumah, seorang wanita sedang bercengkrama dengan seorang laki-laki. Tak lain dia adalah suaminya yang sudah di nikahinya selama 20 tahun.
Suaminya bertanya,”Kenapa kamu memilihku untuk menikahimu? padahal kita tidak lama berjumpa. Semudah itu kah kau jatuh cinta padaku?”
Wanita itu pun tersenyum manja seraya menjawab,”Karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah memilihmu untuk ku cintai.”
Sungguh cinta yang hakiki datangnya dari sebuah Pernikahan, bukan hanya dengan janji semata.

Wallahu a’lam bish shawwab.

*Taken from a friend’s email