Posted: April 15, 2015 in Cerita

Persiapan begadang nanti malam demi pulkam lebaran H-2 :
a. Setting alarm jam 23.30 klo perlu jgn bobok.. 😂😂
b. Buat bookmark ke situs reservasi KAI
c. Bikin banyak tab page utk tiap-tiap opsi jurusan
d. Lengkapi stasiun asal dan tujuan yg akan dipilih terlebih dahulu
e. Tinggal masukkan tgl keberangkatan
f. Paling penting pastikan koneksi stabil dan cepat, serta kuota cukup dgn TelkomselFlash #bukanpromo 😂😂
g. Jika semua di atas tidak berhasil, pakai pilihan call center KAI
h. Opsi (g) bisa dilakukan paralel dgn opsi (a-f) 😅😅 – with Niswatul

View on Path

image

Mungkin itu judul yang pas buat tulisanku kali ini, memang sih agak lebay.. :p maklum udah lama nggak nulis…
Ini tulisan bukan soal Cinta dan Rangga yg tiba-tiba muncul Line, atau cerita mini drama AADC yang menjadi heboh di bulan November ini. Tapi ini adalah tentang cerita bahagia… Insya Alloh. Amin99x..

Siapa yang menyangka seseorang yang menjomblo single mulai lahir hingga 28 tahun lamanya, akhirnya telah menemukan kisah cintanya. Peribahasa si Patkay (temannya si kera sakti itu lho) tidak berlaku lagi, “cinta… deritanya tak pernah berakhir”, karena setahuku cinta itu bahagianya yang tidak akan berakhir.. xixixi

Tidak mudah bagi orang yg tampan rupawan, apalagi suka menabung, dan tidak sombong, untuk terus berjuang menjadi ‘single-man’ selama itu. Yaa.. waktu 28 tahun itu waktu yg cukup lama sekali untuk mencari dan menentukan wanita pujaan hati. Untungnya rekor waktu menjomblo paling lama masih dipegang oleh si Patung Pancoran, menjomblo sejak dia berdiri di atas sana pd tahun 1966… #kasihaaan T.T. Paling tidak temen-temenku yg masih ngejomblo sekarang ini bisa senang, karena terselamatkan oleh si Patung Pancoran.. hehe

Tidak mudah memang memilih pasangan hidup yang sesuai dengan yang kita inginkan, apalagi kalau kita orangnya selektif banget dalam menentukan pilihan… katanya biar dibilang high quality jomblo. Menemukan jodoh yang baik itu bukan masalah waktu cepat atau lamanya, karena jodoh yang cocok itu masalah hati. Banyak yang pacaran ketika masih polos mulai kecil, tapi waktu dewasa sadar banyak lebih cakep akhirnya putus, atau mungkin udah banyak gonta-ganti pasangan eh baliknya ke yang awal juga, atau mungkin dulunya hanya teman-temanan eh taunya sekarang udah papa-mamaan… hehehe hidup esok gk ada yg tau bro, jalani dan usaha terus aja.

Kebanyakan dari kita mungkin ingin punya pasangan ideal, yg putih, tinggi, suka senyum, rambutnya panjang, tapi akhirnya kita tahu ciri itu semua hanya ada pada kuntilanak… O.O hohoho… , atau mungkin pingin cari yang semok, bohai eh ternyata dia punya jakun.. x_x, keluarnya malam hari mlulu trus bawa gitar kotak senar dari ban karet… hihihi. Kita harus sadar tidak semua manusia 100% masuk dalam kriteria pilihan kita, jadi jangan terlalu berharap banyak pasangan yang ideal sesuai kriteria. Kalaupun ada itu bandingannya 1:1milyar… xixixi. Yang penting bro seiman itu udah lebih dari cukup. Kalau kata tulisan di belakang truk, ‘Iling rasane lali rupane’, jadi gk penting rupane (wajahnya) yang penting rasanya… hahaha

Semoga akhir di bulan ini akan menjadi indah bagi semua orang, karena menurutku ini adalah bulan Lovember. Amin.

With love,
ARIF FIRMANSYAH

#ditulisdiselamenungguboarding #menjemputcinta

Hari ini ane lagi sakit mata dan pingin cari tahu obatnya di internet, ketika browsing ane tidak sengaja ketemu dengan artikel ‘obat sakit mata’ yang menurut ane mustajab untuk menyembuhkan ‘mata hati’ ane meskipun bukan mata ane sungguhan. Menurut ane bagus untuk di-share, silahkan disimak..

Titik Buta (Blind Spot)

Semua petinju profesional memiliki pelatih. Bahkan, petinju sehebat Mohammad Ali sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding jelas Mohammad Ali-lah yang akan memenangkan pertandingan tersebut.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Mohammad Ali butuh pelatih kalau jelas-jelas dia akan menang melawan  pelatihnya? Kita harus tahu bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, namun karena ia butuh seseorang untuk
melihat hal-hal yang …
“TIDAK DAPAT DIA LIHAT SENDIRI”

Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan “BLIND SPOT” atau “TITIK BUTA”.
Kita hanya bisa melihat “BLIND SPOT” tersebut dengan bantuan orang lain.

Dalam hidup, kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita,
sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita
mulai bergeser.

Kita butuh orang lain
Yang menasihati,
Yang mengingatkan,
Bahkan yang menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru,
Yang bahkan kita tidak pernah menyadari.

KERENDAHAN HATI kita
Untuk menerima kritikan,
Untuk menerima nasihat,
Dan untuk menerima teguran itulah yang justru menyelamatkan kita.

Kita bukan manusia sempurna.
Biarkan orang lain menjadi “mata” kita di area ‘Blind Spot’ kita sehingga KITA BISA MELIHAT apa yang TIDAK BISA KITA LIHAT dengan pandangan diri kita sendiri..

Mudah2an Bermanfaat

Inilah Tips Jalan-jalan

Posted: December 15, 2013 in Cerita, Tips 'n Trick

Saat ini jalan-jalan atau istilah kerennya travelling sudah sangat mudah dilakukan oleh siapapun dan untuk tujuan kemanapun. Ketika kita bingung cari lokasi yang bagus dan harga yang sesuai kita cukup melakukan googling di internet, karena semuanya cukup mudah ditemukan di sana, masih lebih sulit mencari cewek yang setia.. :p #kalem.

Catat!! Kata siapa sekarang jalan-jalan harus punya uang banyak…

Jalan-jalan itu nggak harus punya banyak uang, akan tetapi jalan-jalan itu harus punya banyak informasi yang bisa diakses, dan untuk saat ini informasi itu mudah untuk didapatkan… percaya deh!! (kalau pingin punya banyak cewek yang memang harus punya banyak uang sih.. :p) Karena saking mudahnya akses informasi yang didapatkan sekarang ini banyak pecinta jalan-jalan bermunculan yang kita kenal dengan istilah backpaker, alias jalan-jalan dengan modal seadanya.

Mencari Informasi Lokasi Wisata Yang Unik

Jalan-jalan ke tempat wisata yang sudah kita pernah kunjungi biasanya membuat kita bosan kecuali itu adalah tempat favorit dan yang paling kita sukai. Mengunjungi tempat wisata yang baru dan unik menjadi kenikmatan sendiri bagi para pecinta jalan-jalan. Bagi yang tidak tahu dimana dan apa saja tempat lokasi wisata yang bagus kalian bisa cek tips kita.

Bagi yang suka jalan-jalan keliling Indonesia, kalian bisa coba akses situs Indonesia’s Official Tourism Website, disitu kalian bisa mengetahui apa saja lokasi wisata-wisata eksotis yang ada di Indonesia. Banyak sekali lokasi wisata yang bisa kita temukan di sana dan menarik seperti hal seorang gadis cantik… xixixi. Begini nih tampilan dari situs Indonesia’s Official Tourism Website :

IndonesiaOfficialTourismWebsite

Hal paling mudah yang kalian lakukan untuk menemukan lokasi wisata adalah buka saja Google dan ketikkan beberapa kata kunci seperti :

  • tempat wisata Indonesia
  • wisata populer di Indonesia
  • daftar tempat wisata Indonesia
  • wonderful Indonesia
  • visit Indonesia
  • lokasi gadis eksotis di Indonesia …#ups
  • dan sebagainya se-kreatif mungkin dirimu…

Hal ini juga bisa kalian lakukan untuk mencari lokasi wisata di luar negeri, tapi kalau menurut kita kalian bisa cek pertama kali lokasi wisata di luar negeri melalui website official tourism di tiap-tiap negara, seperti Official Website Malaysia, Singapore dan lain sebagainya. Jika kalian pecinta jalan-jalan ingin jadi backpaker alias nggak punya banyak uang kalian bisa menambahkan kata ‘backpaker’ dalam setiap pencarian. Menjadi backpaker dalam setiap jalan-jalan menurut kita itu jauh lebih seru dan lebih menantang, mirip halnya pelatih sepakbola, yang harus bisa mengatur strategi.

Menyusun Rencana atau Itinerary

Agar perjalanan kita berjalan dengan lancar kita harus punya rencana kapan kita akan melakukan perjalanan, berapa lama, transportasi dan akomodasi lainnya. Ada banyak orang yang merencanakan perjalanannya jauh-jauh hari bahkan sampai satu tahun sebelumnya (tidak hanya orang yang mau menikah saja untuk sewa gedung sampai setahun lamanya, jalan-jalan pun juga.. :p). Biasanya orang-orang yang seperti ini adalah orang-orang backpaker yang memanfaatkan promo-promo dengan harga yang lebih murah dari biasanya.

Mencari tiket-tiket promo memang gampang-gampang susah, kita harus berebut dengan promo seeker lainnya melalui dunia maya. Untuk mendapatkan informasi ini mengenai tiket promo ini, kita harus sering-sering mengunjungi website maskapai penerbangan atau kalian bisa mem-follow akun-akun twitter, me-like akun fanpage facebook dari tiap-tiap maskapai penerbangan tersebut, dan bahkan kalau perlu subscribe email dsb. Siapa yang menguasai informasi mereka yang menang..😀

Membuat itinerary sangat bermanfaat sekali ketika kita bepergian sendiri (tanpa agent travel) untuk menyusun dan membagi waktu di tempat lokasi yang kita tuju, merencakan transportasi, dan menentukan penginapan dengan harga yang sesuai dengan budget kita.

Narsis itu Perlu Diabadikan

PP_FB

Kalau kita jalan-jalan tanpa membawa kamera itu ibarat be’ol tapi nggak pake cuci, nggak afdol. Setiap orang butuh narsis ketika jalan-jalan sebagai pembuktian dan mengabadikan kenangan selama berkunjung ke suatu tempat. Hanya saja level kenarsisan tiap orang-orang berbeda. Mengabadikan moment dgn mengambil foto tidak perlu memakai kamera yang mahal-mahal seperti DSLR (kalau pakai ini lebih baik sih), cukup dengan kamera handphone juga cukup. Karena terlalu banyak membawa kamera kadang membuat repot kita sendiri. Syukur-syukur kita punya kamera handphone yang kualitas gambarnya sama dengan DSLR.. #ngarep

Oke mungkin sampai sini saja berbagi tips-nya, sebenarnya banyak hal lainnya yang bisa menjadi tips selagi kita jalan-jalan. Oleh karena itu simak terus kisah seru lainnya yang akan kita bagi.

Ayo jalan-jalan sekarang!

Hari ini mungkin menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh teman-teman yg bekerja di BP Migas, karena pada hari ini pula Mahkamah Konstitusi (MK) telah memutuskan untuk membubarkan badan usaha ini. Mahkamah Konstitusi (MK) memutuskan pasal yang mengatur tugas dan fungsi Badan Pelaksana Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) yang diatur dalam UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak memiliki hukum mengikat.

Perusahaan yang secara kebetulan memiliki kantor pusat yang sama dengan perusahaan dimana aku bekerja ini, mungkin ‘sedikit mirip’ dengan kasus yang menimpa perusahaan dimana aku bekerja, kalau kemarin kita sempat dinyatakan pailit oleh PN Jakarta sedangkan yang ini sudah pasti dinyatakan ‘bubar’ oleh MK. Hal ini membuat aku menjadi tertarik untuk menelusuri apa yang sedang terjadi sebenarnya dengan UU Nomor 22 Tahun 2001 yang melatarbelakangi terbentuknya BP Migas. Akhirnya aku coba untuk mencari informasinya yang berkaitan dengan UU tersebut dan BP Migas di internet. Satu hal yang membuatku juga terkejut adalah pada hari ini seketika itu aku juga tidak bisa mengakses situs BP Migas itu sendiri (*dalam hati… buset sampai situs BP Migas pun sudah hilang dalam hari ini), ini berarti BP Migas memang benar-benar sudah tidak ada untuk hari esok dan seterusnya.

Sebenarnya berdirinya BP Migas itu didasarkan atas adanya UU Nomor 22 Tahun 2001. Mau tahu apa yang melatarbelakangi UU ini terbentuk dan seperti apa kesimpulan isinya berikut aku temukan rangkumannya dalam versi orang awam sehingga semua orang dapat memahami. Aku ambil referensinya dari sini. Berikut detailnya :

Menengok sejarah lahirnya UU No 22 tahun 2001 tentang minyak dan gas bumi, saya cukup miris. Substansi UU ini merupakan bagian dari paket Letter of Intent (LoI), yang dipaksakan oleh IMF dan dibantu konconya, World Bank, untuk me-liberalisasi dan men-deregulasi sektor-sektor strategis di Indonesia. Minyak dan gas bumi adalah salah satunya. Kita tahu, bahwa LoI tersebut merupakan sejumlah ketentuan yang wajib dilakukan oleh Indonesia, sebagai syarat untuk menerima “bantuan” dalam penanganan krisis moneter satu dekade lalu.

Analoginya begini. Saya meminjamkan duit kepada Anda, dan saya minta agar Anda membersihkan dapur, memugar pagar dan halaman, serta merombak susunan rumah Anda. Bukan hanya itu, saya juga berhak untuk mengatur rumah tangga Anda. Kedaulatan Anda sebagai pemimpin rumah tangga, telah saya ambil. Tentu, isteri dan anak Anda berhak untuk saya apakan saja. Saya dapat berbuat begitu karena saya melihat bahwa Anda sedang benar-benar butuh uang, dan Anda betul-betul sekarat karenanya. Dengan begitu, saya punya kesempatan untuk “menggencet” Anda. Bejat bukan? Itulah IMF dengan paket LoI-nya.

Dilihat dari substansinya, dalam kerangka liberalisasi tadi, UU ini bertujuan untuk memecah (unblunded) sektor hulu dan hilir minyak dan gas bumi yang tadinya terintegrasi. Di sektor hulu, dari dulu pihak asing memang sudah lenggang kangkung di Indonesia, dan menguasai 80% cadangan minyak dan gas bumi Indonesia. Rupanya asing belum puas. Dengan meminjam tangan kotor IMF dan Bank Dunia, mereka juga ingin masuk dan menguasai sektor hilir di Indonesia. Mereka tahu betul betapa besar potensi pasar industri hilir minyak dan gas bumi di Indonesia. Meski sampai saat ini, upaya mereka masih tertatih, karena belum mampu menandingi Pertamina dalam hal penguasaan infrastruktur pengadaan bahan bakan minyak di dalam negeri.

Di sektor hulu, UU ini telah melucuti kewenangan Pertamina sebagai satu-satunya pemegang kuasa pertambangan minyak dan gas bumi. Pertamina dibuat sebagai pemain “biasa”, disamakan dengan kontraktor migas mana pun di Indonesia. Pertamina juga harus memecahkan dirinya ke dalam ranting-ranting usaha hulu dan hilir yang terpisah. Sebelum UU ini lahir, pengusahaan minyak dan gas bumi mengacu pada UU No. 8 tahun 1971 tentang Pertamina. Kontraktor yang ingin mengusahakan minyak dan gas bumi, harus melewati “pintu” Pertamina sebagai perusahaan “tuan rumah”. Mereka lalu membuat kontrak PSC dengan Pertamina.

Oleh sebagian kalangan, kondisi inilah yang menyebabkan Pertamina tidak sehat, tidak berkembang, jadi lumbung korupsi, dan sebagainya. Karena itu mereka setuju dengan liberalisasi. Padahal, regulasi tetaplah regulasi. Korupsi adalah masalah moral. Transformasi bisa tetap dilakukan, tanpa harus melucuti sejumlah kewenangan strategis sebuah badan usaha milik negara.

UU ini menyerahkan kewenangan Pertamina kepada BPMIGAS untuk sektor hulu, dan BPH MIGAS untuk sektor hilir. Khusus mengenai BPMIGAS, ini adalah badan hukum milik negara, bukan badan usaha. Tetapi Pemerintah memberinya kewenangan untuk melakukan perjanjian bisnis dengan kontraktor migas. Saya melihat hal ini mengandung beberapa resiko.

Pertama, BPMIGAS sebagai representasi Pemerintah yang akan menerima bagi hasil minyak dan gas bumi bagian Pemerintah/Negara, namun tidak bisa menjual atau mengelola sendiri. Konsekuensinya, Pemerintah harus menunjuk pihak ke tiga, untuk melakukannya. Kalau untuk mengolahnya di dalam negeri, tidak jadi soal, karena masih ada Pertamina. Tetapi bagaimana dengan penjualan minyak atau gas bumi ke luar negeri? Untuk hal ini, negara seringkali menunjuk pihak asing untuk menjualkan minyak atau gasnya. Kan lucu!

Kedua, karena sebagai pihak yang membuat kontrak langsung dengan kontraktor asing, maka posisi BPMIGAS secara hukum sejajar dengan kontraktor asing. Melalui skema ini, Pemerintah bisa diseret langsung ke arbitrase internasional, apabila dianggap merugikan kontraktor asing. Wuedan! Lain halnya jika kontrak tersebut dibuat antara kontraktor dengan Pertamina. Jika ada dispute, cukuplah Pertamina, bukan Pemerintah atau Negara, yang menyelesaikan dan berhadapan dengan hukum internasional. Melihat kondisi tersebut, negara jelas dalam posisi yang tidak aman dalam berhadapan dengan kontraktor asing.

Mau tau isi UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas, coba lihat di sini

MK menyatakan Pasal 1 angka 23, Pasal 4 ayat (3), Pasal 41 ayat (2), Pasal 44, Pasal 45, Pasal 48 ayat (1), Pasal 59 huruf a, Pasal 61, dan Pasal 63 UU Migas bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Dalam UU Migas, syarat Kontrak Kerja Sama (KKS) minimal ada tiga yaitu kepemilikan sumber daya alam di tangan Pemerintah sampai pada titik penyerahan, kedua pengendalian manajemen operasi berada pada BP Migas dan ketiga modal dan resiko seluruhnya ditanggung Badan Usaha/Bentuk Usaha Tetap.

Impian itu termasuk doa yang secara tidak sadar selalu kita ucapkan ketika kita mengingatnya.

Setuju atau tidak? tapi itulah menurutku.

Ketika masih duduk di bangku TK ataupun SD, pasti di antara kita pernah ditanya oleh guru kita “Anak-anak, apa cita-cita kalian nanti ketika dewasa?“, dan mungkin dari kita ada yang menjawab ingin menjadi dokter, ingin menjadi guru, atau bahkan ingin menjadi pilot. Suatu cita-cita yang wajar diucapkan oleh seorang anak kecil yang masih LUGU (*LUcu GUndek-gundek), cita-cita yang dia harapkan seketika dia melihat pekerjaan itu menarik untuknya. Begitu pun juga aku dulu yang ingin menjadi seorang pilot pesawat tempur karena merasa enaknya menjadi pilot yang bisa terbang kesana-kemari, dan kelihatan begitu hebatnya meliuk-liuk acrobatic di angkasa. Bagiku… waktu itu keren.

Namun setelah kita dewasa, adakah yang pernah terbesit berpikir, apakah cita-cita kita sewaktu masih kecil itu akan terus kita ingat dan kita kejar untuk meraihnya sampai saat ini?, mungkin sih masih ada beberapa di antara kita yang masih kukuh dengan cita-cita atau impiannya semasa waktu kecil, tapi ada juga dari kebanyakan kita sudah melupakannya. Tidak usah jauh-jauh, salah satu contohnya ialah aku, sewaktu kecil aku punya cita-cita untuk bisa menjadi pilot eh ternyata ketika dewasa aku hanya bisa menjadi seorang pegawai swasta, iya (masih) pegawai. Sebenarnya aku masih ingin bercita-cita untuk menjadi pengusaha. Semoga… Insya Alloh ke depannya nanti aku akan menjadi pengusaha, Amin3x, that’s my real cita-cita, ya paling tidak… (peng)usaha membesarkan anak sendiri..🙂

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan guru kita dan impian kita semasa kecil, justru pertanyaan seperti inilah yang membuat kita bisa punya mimpi, berani bermimpi dan menjadi orang yang berhasil di kemudian hari sesuai dengan apa yang kita inginkan. Banyak orang yg berhasil dan sukses dikarenakan dia berani bermimpi, berani menggantungkan cita-citanya setinggi langit, dan tentunya terus berikhtiar untuk mendapatkannya.

Kalau aku mengibaratkan,

sebenarnya impian/cita-cita itu adalah obor semangat yang selalu memacu kita untuk terus berjuang dan membuat diri kita agar tidak lupa, bahwa kita punya harapan masa depan yang lebih baik.

Ketika bermimpi setidaknya kamu sekarang sudah mulai berdoa dan mengetahui sampai sejauh mana kamu melangkah untuk menggapai cita-citamu.

Pernah sejenak terbesit, Aburizal Bakrie saja berani bermimpi dengan mendeklarasikan dirinya untuk menjadi calon Presiden, mengapa aku juga nggak ikutan, berani untuk mendeklarasikan apa saja impianku, meskipun aku bukan ingin menjadi calon Presiden jg. Menentukan sendiri seperti apa jalan hidupku dan menjadi apa aku kelak, meskipun aku tahu dan percaya bahwa Alloh Sang Khalik juga punya grand design jalan terbaik hidupku kelak. Dengan selalu berdoa dan berusaha, kita juga bisa mengubahnya. Ibaratnya kita punya sendiri usulan rencana hidup kita, diterima atau tidak Alloh yang memutuskan, tergantung seberapa kuat kita memohon dengan cara berdoa dan berusaha. Manusia boleh berencana, tetap Alloh yang menentukan.

Maka mulai saat ini… ingatlah selalu impianmu dan terus melangkah.

 

Salam

– A. Firmansyah –

*) Pidato Steve Jobs saat acara pelepasan wisudawan Stanford tahun 2005, diterjemahkan oleh Ellen Kristi

Aku merasa terhormat bersama kalian hari ini saat kalian diwisuda dari salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Aku sendiri tidak pernah lulus dari kampus. Jujur kubilang, ini adalah momen paling intim yang pernah aku peroleh dengan acara wisuda perguruan tinggi. Hari ini aku ingin menceritakan tiga kisah dari hidupku. Itu saja. Tidak banyak-banyak. Cuma tiga kisah.Kisah pertama ialah tentang menghubungkan titik-titik.Aku putus kuliah dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tapi masih ‘beredar’ sebagai mahasiswa lepas selama 18 bulan kemudian sebelum aku betul-betul keluar dari sana. Kenapa aku berhenti kuliah?

Semuanya dimulai sejak aku dilahirkan. Ibu biologisku seorang mahasiswi yang belum menikah, dan dia memutuskan untuk menyerahkan aku untuk diadopsi. Dia berkeras aku harus diadopsi oleh lulusan perguruan tinggi, sehingga semuanya sudah diatur supaya aku diadopsi sejak bayi oleh satu keluarga ahli hukum. Tapi saat aku muncul, keluarga itu memutuskan pada menit terakhir bahwa mereka ingin anak perempuan. Maka orangtuaku yang sekarang, yang sudah ada di daftar tunggu, mendapat telpon tengah malam: “Kami punya bayi lelaki yang tak diharapkan; kalian mau?” Orangtuaku menjawab: “Tentu saja.” Ibu biologisku mendengar bahwa calon ibu angkatku ini tidak pernah lulus kuliah sementara suaminya tidak pernah lulus SMA. Dia menolak menandatangani dokumen akhir adopsi. Dia baru menyerah beberapa bulan kemudian ketika orangtuaku berjanji suatu hari nanti aku akan kuliah.

Dan 17 tahun kemudian aku betul-betul kuliah. Tapi aku dengan naif memilih perguruan tinggi yang sama mahalnya dengan Stanford, dan semua tabungan orangtuaku yang kelas pekerja itu dihabiskan untuk membayar SPP. Setelah enam bulan, aku tidak melihat semua ini ada gunanya. Aku masih tidak tahu apa yang ingin aku kerjakan dalam hidupku dan tidak tahu juga bagaimana perkuliahan bisa membantuku mencari jawabannya. Dan aku terus menghabiskan uang yang telah ditabung orangtuaku seumur hidup mereka. Maka aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan mengimani bahwa akhirnya semua akan baik-baik saja. Lumayan menakutkan situasi waktu itu, tapi sekarang saat menoleh ke belakang, itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Pada menit aku putus kuliah, aku bisa meninggalkan kelas-kelas wajib yang tidak menarik minatku, dan mulai mengikuti kelas-kelas yang terlihat menarik.

Tidak semuanya romantis. Aku tidak punya kamar asrama, jadi aku tidur di lantai kamar-kamar temanku. Aku mengembalikan botol-botol minuman sehingga uang-uang deposit 5 sen (per botol) bisa kupakai membeli makan, dan aku akan berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk memperoleh seporsi makan malam lengkap di kuil Hare Krishna. Aku suka ini. Dan banyak sekali dari yang aku temui lewat proses mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi ternyata akan menjadi tak ternilai harganya kemudian. Aku berikan satu contoh:

Reed College pada waktu itu menawarkan mata kuliah kaligrafi terbaik di seluruh negeri. Di mana-mana di kampus, setiap poster, setiap label di laci, dikaligrafi dengan tangan begitu indahnya. Karena aku sudah bukan mahasiswa resmi dan tidak mengikuti kelas-kelas wajib, aku memutuskan untuk ikut kelas kaligrafi untuk belajar membuatnya. Aku belajar tentang jenis huruf serif dan sanserif, tentang membuat variasi jarak di antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat satu tipografi terlihat bagus. Pengetahuan ini indah, halus secara artistik dan historis, sedemikian rupa sehingga tak bisa ditangkap oleh sains, dan aku menganggapnya memikat.

Tak ada bagian dari mata kuliah ini yang tampak berguna untuk hidupku. Tapi sepuluh tahun kemudian, ketika kami sedang merancang komputer Macintosh yang pertama, semuanya teringat kembali. Dan kami memasukkan semuanya ke dalam rancangan Mac. Inilah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Kalau saja aku tidak pernah ikut kuliah lepas itu di perguruan tinggi, Mac tidak akan pernah punya jenis huruf bervariasi atau huruf-huruf yang ditata proporsioinal. Dan karena Windows cuma meniru Mac, mungkin saja tidak ada komputer pribadi yang akan punya semua itu. Kalau aku tidak pernah putus kuliah, aku tidak akan pernah ikut kelas kaligrafi ini, dan semua PC mungkin tidak akan punya tipografi indah seperti sekarang. Tentu saja mustahil ‘menyambung titik-titik’ dengan melihat ke masa depan saat aku masih di bangku kuliah. Tapi semuanya jadi sangat amat jelas jika aku menoleh ke belakang sepuluh tahun kemudian.

Sekali lagi, kalian tidak bisa menyambungkan titik demi titik sambil melihat ke depan; kalian hanya bisa melihat koneksinya saat melihat ke belakang. Jadi, kalian harus percaya bahwa titik-titik itu entah bagaimana kelak akan tersambung di masa depan kalian. Kalian harus mempercayai sesuatu — keberanian, takdir, jalan hidup, karma, apa pun sebutannya. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakanku, dan telah menyebabkan semua perubahan dalam hidupku.

Kisahku kedua ialah tentang cinta dan kehilangan.

Aku beruntung — aku menemukan bidang yang aku cintai pada usia muda. Woz dan aku mendirikan Apple di garasi orangtuaku waktu umurku 20 tahun, dan dalam 10 tahun Apple bertumbuh dari sekedar kami berdua di garasi menjadi perusahaan senilai $2 milyar dengan lebih dari 4000 pekerja. Kami telah meluncurkan produk terbaik kami — Macintosh — setahun sebelumnya dan aku baru saja memasuki usia 30. Lalu aku dipecat. Mana mungkin Anda dipecat dari perusahaan yang Anda dirikan? Begini, sementara Apple berkembang kami merekrut seseorang yang aku pikir sangat berbakat untuk mengelola perusahaan ini bersama-sama, dan di tahun pertama kurang lebih semua berjalan lancar. Tapi kemudian visi kami tentang masa depan mulai berbeda arah dan akhirnya kami bertengkar. Ketika itu terjadi, Dewan Direksi memihak padanya. Maka pada usia 30 aku dipecat. Dipecat secara sangat terang-terangan. Apa yang telah menjadi fokus seluruh hidup dewasaku lenyap, dan rasanya hancur sekali.

Aku linglung selama berbulan-bulan. Aku merasa telah mengecewakan generasi wirausahawan masa lalu – aku gagal meneruskan tongkat estafet dari mereka. Aku bertemu David Packard dan Bob Noyce dan mencoba minta maaf karena membuat kekacauan ini. Aku ini orang gagal di mata masyarakat, dan aku bahkan berpikir untuk melarikan diri dari lembah ini. Tapi fajar berangsur-angsur menyingsing di hatiku — aku masih cinta bidang pekerjaanku. Rangkaian peristiwa di Apple tidak mengubah itu sedikit pun. Aku telah dibuang, tapi aku masih penuh cinta. Maka aku memutuskan untuk mulai dari nol lagi.

Waktu itu belum aku pahami, tapi ternyata dipecat dari Apple adalah peristiwa terbaik dalam hidupku. Beban berat kesuksesan digantikan oleh langkah ringan menjadi pemula lagi, serba kurang pasti tentang segala sesuatu. Ini membebaskan aku untuk memasuki salah satu periode paling kreatif dalam hidupku.

Selama lima tahun berikutnya, aku mendirikan perusahaan bernama NeXT, dan perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta pada seorang perempuan menakjubkan yang kemudian menjadi istriku. Pixar kemudian menciptakan film cerita animasi komputer pertama di dunia, Toy Story, dan sekarang adalah studio animasi paling sukses di dunia. Lewat rangkaian peristiwa yang ajaib, Apple membeli NeXT, aku kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung dari kebangkitan kembali Apple saat ini. Dan Laurene dan aku membangun keluarga yang luar biasa bahagia.

Aku yakin semua ini tak akan terjadi kalau aku tidak dipecat dari Apple. Obat itu rasanya pahit, tapi kupikir pasien perlu meminumnya. Kadang hidup menghantam kepalamu dengan batu bata. Jangan kehilangan iman. Aku yakin bahwa satu-satunya alasan aku terus maju adalah karena aku cinta apa yang aku kerjakan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai. Baik pekerjaan ataupun pasangan. Karir akan mengisi sebagian besar waktu hidupmu, dan satu-satunya cara untuk sepenuhnya puas adalah melakukan apa yang kau yakini sebagai pekerjaan besar. Dan jalan satu-satunya melakukan pekerjaan besar adalah dengan mencintai melakukannya. Kalau kau belum menemukan, teruslah mencari. Jangan menetap dulu. Seperti semua perkara hati lainnya, kau akan tahu itulah dia saat kau menemukannya. Dan, seperti semua kisah cinta sejati lain, segalanya akan menjadi makin lama makin indah sementara tahun-tahun bergulir. Jadi teruslah mencari sampai kau mendapatkannya. Jangan menetap dulu.

Kisah ketigaku ialah tentang kematian.

Saat aku berumur 17, aku membaca kutipan yang isinya kurang lebih: “Kalau kau menjalani setiap hari seolah-olah itu hari terakhirmu, pada suatu hari pasti itu benar terjadi.” Sangat berkesan buatku dan sejak saat itu, selama 33 tahun terakhir, aku setiap pagi bercermin dan menanyai diri sendiri: “Kalau hari ini adalah hari terakhirku, apa aku mau menjalani apa yang aku rencanakan hari ini?” Dan kapan pun jawabannya TIDAK selama begitu banyak hari berturut-turut, aku tahu ada yang perlu aku ubah.

Mengingat bahwa aku akan segera mati adalah perangkat paling penting bagiku untuk membantuku membuat keputusan-keputusan besar dalam hidup ini. Karena hampir segalanya — semua target eksternal, semua kebanggaan, semua ketakutan akan rasa malu atau kegagalan — hal-hal ini akan rontok di hadapan maut, yang tertinggal hanya yang betul-betul penting. Mengingat kita akan segera mati adalah cara terbaik yang aku tahu untuk menghindari jebakan pikiran bahwa kau bisa kehilangan sesuatu. Kau sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hatimu.

Sekitar setahun lalu aku didiagnosis kanker. Aku di-scan pukul 7:30 pagi, dan tampak jelas sekali ada tumor di pankreasku. Aku bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter menjelaskan ini jenis kanker yang tak bisa disembuhkan, dan harapan hidupku tidak lebih panjang dari tiga sampai enam bulan. Mereka menganjurkan aku pulang dan membereskan semua urusan, suatu kode para dokter tentang bersiap untuk kematian. Artinya, berusaha memberitahu anak-anakmu apa yang tadinya kau pikir akan kau lakukan dalam waktu 10 tahun, hanya dalam beberapa bulan. Artinya, memastikan semua diamankan sehingga keluargamu akan menjalaninya semudah mungkin. Artinya, mengucapkan selamat tinggal.

Aku dihantui diagnosis itu sepanjang hari. Malam itu aku dibiopsi, mereka memasukkan endoskop menuruni kerongkonganku, lalu perutku dan ususku, mencucukkan jarum ke pankreasku dan mengambil sedikit sel dari tumor itu. Aku dibius, tapi istriku, yang menemani di sana, bercerita bahwa ketika mereka meneliti sel-sel itu dengan mikroskop, para dokter itu mulai menangis karena ternyata itu jenis kanker pankreas yang sangat langka tapi masih bisa disembuhkan lewat operasi. Aku menjalani operasi itu dan sehat sampai sekarang.

Di sini aku merasa dekat sekali dengan kematian, dan aku harap tidak lebih dekat lagi sampai beberapa dekade ke depan. Setelah melewatinya, aku sekarang bisa cerita tentang kematian dengan lebih yakin daripada ketika kematian itu sekedar, meski berguna, konsep intelektual murni bagiku.

Tak ada orang yang mau mati. Bahkan orang yang ingin ke surga juga tidak mau mati cepat-cepat. Tapi kematian adalah terminal akhir yang kita semua tuju. Tak ada yang bisa melarikan diri. Dan memang sebaiknya begitu, karena Kematian sangat mungkin adalah satu-satunya penemuan terbaik dari Kehidupan. Ia adalah agen pengubah Kehidupan. Ia membersihkan yang tua bagi yang muda. Saat ini yang muda itu adalah kalian, tapi satu hari tak lama lagi, kalian akan menjadi yang tua dan akan dibersihkan. Maaf kalau terlalu dramatis, tapi ini benar.

Waktumu terbatas, jadi jangan menyia-nyiakannya dengan hidup sebagai orang lain. Jangan terjebak oleh dogma — yakni hidup dalam hasil pikiran orang lain. Jangan biarkan keriuhan opini orang menenggelamkan suara hatimu sendiri. Dan yang paling penting, milikilah keberanian untuk mengikuti hati dan intuisimu. Keduanya entah bagaimana sudah tahu kau sebetulnya ingin jadi apa. Semua pendapat lain itu nomor dua.

Waktu aku muda, ada terbitan hebat bernama The Whole Earth Catalog, yang menjadi salah satu kitab suci generasiku. Penciptanya adalah seorang bernama Stewart Brand yang berasal tak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia menghidupkan terbitan itu dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum adanya komputer pribadi dan perangkat lunak penerbitan, maka semuanya masih dibuat dengan mesin ketik, gunting, dan kamera polaroid. Hasilnya semacam Google dalam bentuk buku bersampul tipis, 35 tahun sebelum Google datang: terbitan itu idealistik dan berlimpah perangkat keren dan gagasan hebat.

Stewart dan timnya mengeluarkan beberapa edisi The Whole Earth Catalog, dan ketika mereka sudah tak mampu lagi, mereka mengeluarkan edisi terakhir. Waktu itu pertengahan 1970-an, dan aku masih seumur kalian. Di sampul belakang dari edisi terakhir itu ada foto jalan pedesaan di pagi hari, tempat yang mungkin kalian susuri kalau kalian petualang. Di bawahnya adalah kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish“, tetaplah merasa lapar, tetaplah merasa bodoh. Itu adalah pesan perpisahan sementara mereka mengundurkan diri. Tetaplah merasa lapar. Tetaplah merasa bodoh. Dan aku selalu mengharapkan itu bagi diriku sendiri. Dan sekarang, sementara kalian diwisuda untuk memulai kehidupan baru, aku mengharapkan itu bagi kalian.

Tetaplah merasa lapar. Tetaplah merasa bodoh. Terima kasih.