Posts Tagged ‘Backpacker’

#Perjalanan Menuju Garut

Oke langsung saja ya daripada membahas dengan panjang dan lebar mau menulis kata-kata pembukaan untuk tulisan ini, mending aku langsung saja cerita… *karena aku juga memahami kasihan sama ibu-ibu dan mbak-mbaknya kalau terlalu panjang, dan kasihan dengan mas-masnya kalau terlalu lebar.. katanya nggak enak, nggak pas* <– ngomong apaan sih ini, aku sendiri juga nggak tau maksudnya, katanya nikah dulu baru tahu maksudnya… 😀

Ide untuk menikmati pegunungan Papandayan apalagi camping di sana sebenarnya adalah berawal dari ide yang tidak sengaja tercetus, tapi karena pada dasarnya kita semua suka dengan tantangan maka nggak ada salahnya untuk dicoba… *kita gtu lho, pemuda yang tertantang untuk menikmati ‘gunung kembar’ <– #abaikan. Pengalaman camping, sebenarnya dulu sudah pernah aku rasakan dalam acara Cinta Alam Indonesia 5 tahun yang lalu, bertempat di Bumi Perkemahan Kosambiwojo – Jombang. Jadi aku tidak takut untuk mencoba sensasi ini lagi di Gunung Papandayan, Cisurupan – Garut

Mendaki gunung, pemandangan pegunungan, suasana pegunungan, dan semua hal yang berhubungan dengan gunung-gunung pasti sesuatu yang menarik untuk dinikmati, dirasakan dan diceritakan karena ada sensasi tersendiri di sana, bahkan sampai-sampai orang yang punya ‘gunung’ sekali pun juga begitu enak untuk dinikmati, tanya saja sama yang sudah menikah… #lho apa hubungannya, karena kalau sudah di puncak kenikmatan ‘gunungnya’ pinginnya tidak mau turun-turun… #lho apalagi ini. Buktinya saja setiap weekend liburan, bagi warga Ibukota ke arah puncak pasti akan selalu ramai dan tentunya macet.

22.30 WIB. Kita sudah siap-siap untuk berangkat dan berkumpul. Iya kita berangkat malam hari karena kita ingin sampai di Gunung Papandayan esok pagi harinya dan sekalian bisa melihat sunrise ketika melakukan pendakian. Dan juga kalau berangkatnya malam kita nggak akan mengganggu dan merepotkan banyak orang waktu berangkat sambil membawa perlengkapan camping nanti. Oh ya, waktu itu rute yang kita pakai, kita jalan dari depan Jl Raya Bogor di KM 29 menuju Pasar Rebo (bawah Fly Over), dan cukup mengeluarkan ongkos sekitar Rp 2,000 untuk angkotnya.

Setelah sampai di Pasar Rebo kita kemudian naik bus kota yang menuju Garut, kalau tidak salah seingatku ongkosnya sekitar Rp 20,000. Dengan kata lain, cukup mengeluarkan uang Rp 22,000 kita sudah sampai Garut. Sebenarnya ada cara lagi sih yang lebih murah bisa turun sampai 50%-80%, tapi waktu itu kita nggak ada mood untuk melakukannya dan dirasa kurang menantang bagi kita. Mau??? coba saja sendiri caranya…. –> Jalan Kaki, atau Ngegandol Truk… 😀

Oh ya sedikit berbagi pengalaman saja, kalau naik bus pilih bus yang agak bagusan dikit jangan yang asal-asalan, asal bisa jalan, asal ada ban, atau asal ada yang naik. Karena kemarin kita di awal perjalanan dikejutkan dengan kejadian yang absurd *menggelikan, lucu, mustahil bin tak masuk akal*, karena enak-enaknya jalan sudah masuk tol, aku yang duduk di belakang tiba-tiba melihat orang teriak-teriak dan bergerombol menuju belakang, sekilas aku kira ada yang tawuran atau apa, eh tiba-tiba nggak lama dari arah depan, busnya mengeluarkan asap nggak jelas begitu, ya jelas bikin orang panik semua tidak karuan. *benar-benar kejadian yang absurd*

Perjalanan naik bus dari Jakarta (Pasar Rebo) menuju terminal Garut cukup lama juga karena membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Oleh karena waktu yang lama, maka kita semua manfaatkan untuk tidur di dalam bus, dan berharap kejadian absurd sebelumnya tidak terulang. Nggak lucu saja kalau tiba-tiba besok di TV muncul HotNews, “Para pemuda bepergian ke Gunung Papandayan lengkap dengan alat camping, naas terbakar gosong di dalam bus”

Pelajaran 1 –> *Setiap yang harganya murah pasti memiliki resiko lebih besar*

#Tiba di Terminal Garut

02.45 WIB. Dini hari kita sudah sampai di Garut sambil diselimuti dengan dinginnya udara waktu itu, lebih awal tiba dari rencana yang kita susun. Karena kalau kita berangkat langsung menuju Cisurupan, Gunung Papandayan kita akan memanjat sambil gelap-gelapan, iya kalau manjat ‘gunungnya’ di kamar tidur gelap-gelapan nggak masalah, malah nikmat katanya…#eh <– maaf, mungkin ini efek terlalu lama jadi perjaka… :D.

Atas dasar nama menjadi backpackers sejati, kita nggak mau menginap sampai mengeluarkan ongkos lagi… *bukannya kita nggak punya uang, uang kita sih banyak, lebih-lebih malah, sampai nggak bisa bayar lebih maksudnya.. 😀 *. Akhirnya kita punya ide untuk menginap di warung makan, cuman bermodalkan ongkos makan kita bisa tidur sebentar di warung makan tersebut. Rp 6,000-an = Makan + Nginap Gratis…. murahkan..?!? *benar-benar dah, jangan ditiru ya… hahhaha

#Perjalanan Menuju Cisurupan (Lokasi Gunung Papandayan)

04.50 WIB. Setelah selesai istirahat di warung makan (tidur juga sih… heheh), bersih-bersih (wajah doank), nggak lupa beol dulu dan tentunya sholat subuh, kita baru melanjutkan perjalanan langsung ke Cisurupan. Berangkat dari terminal menuju langsung ke lokasi, sebenarnya kita harus pakai angkot 2 kali pindah, tapi karena kita orangnya ‘nggak lurus-lurus amat’ (baca: orang yang nggak benar) kita melakukan negoisasi dengan angkot yang waktu itu ada di terminal masih sedikit untuk mau mengantarkan kita langsung menuju Cisurupan. Akhirnya dengan ber-7 ada juga sopir angkot yang se-7 untuk mengangkut kita. Oh ya, as your reference per orangnya kalau tidak salah waktu itu jadi kena ongkos sekitar Rp 5,000 – Rp 7,000-an.

#Perjalanan ke (Kaki) Gunung Papandayan

06.30 WIB. Udara pagi waktu itu begitu dingin hingga merasuk ke tulang-tulang, ketika kita menguap saja sama seperti kita sedang merokok, keluar asap dari mulut. Ya… akhirnya kita sampai juga di Cisurupan, Garut. Ternyata, sampai di sini bukan berarti kita sudah sampai di Gunung Papandayan yang kita maksud. Karena kita baru sampai di desa Cisurupan-nya saja, atau kira-kira masih 3-4 km lagi menuju kaki gunung Papandayan…. waduh, padahal udah nggak tahan lagi cepat-cepat mau menikmati ‘gunung kembar‘ di sana… #eh

Mungkin 3-4 km di jalanan lurus dan tidak mendaki bisa kita tempuh dengan jalan kaki, tapi karena jalanannya naik ke atas ya beda ceritanya. Yaa… sebenarnya jalan kaki dari desa Cisurupan ke kaki gunung Papandayan sih  bisa-bisa saja, nggak masalah dan karena pada dasarnya kita juga suka tantangan, tapi karena waktu kita masih panjang untuk aktifitas di puncak nanti jadi kita harus menghemat tenaga… *ngeles.com

Untuk yang mau bepergian ke sana, nggak perlu sedih hati, lelah-lelah jalan kaki, ternyata di sana ada juga orang yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan kita naik ke atas menuju kaki gunung Papandayan. Yang jelas transportasi jenis ini enak, kita bisa menghirup udara bebas segar semau-semaunya, bisa bergaya-gaya di atasnya, apalagi foto-fotoan segala. Tau nggak apaan transportasinya…?? Ojek….. bukan, Angkot…… juga bukan, Bus ya…. wah bukan juga, ohh kereta api ya…. -_-!| emang ini tempat Jakarta kali dimana-mana ada kereta api dan bus… bukan juga, tapi jenis transportasinya ialah… jreng… jreng… jreng…. Mobil Pick Up…. hhahaha…

Jangan salah, dengan mobil ini semua pemandangan gunung di sekitar bisa kita lihat dengan bebas dari segala arah, tanpa terhalang jendela maupun kaca sedikitpun. Kereeennn kan… tapi di satu sisi orang lain di sekitar juga bisa melihat bebas dari sudut manapun kita yang ada di mobil… -_-!|. Setelah tawar-menawar, akhirnya kita dapat harga Rp 50,000.- untuk satu mobil pick up yang akan mengantarkan kita menuju kaki gunung Papandayan. Asyik-asyik hampir sampai nigh…

Nih pemandangan yang dapat kita ambil dari atas mobil…

Kalau lihat jauh perjalanannya saja segitu, bagaimana kalau jalan kaki tadi, bisa-bisa sampai atas dan nggak turun-turun ke bawah selamanya… *alias sekarat di atas.

#Kaki Gunung Papandayan, Akhirnya…

07.30 WIB. Seiring dengan terus meningginya matahari, bukan berarti ikut menaikkan suhu udara waktu itu malah menurun mendekati nol derajat lho… *lebay*, karena mengingat matahari juga masih diselimuti awan yang tebal. Akhirnya kita sampai juga di kaki gunung Papandayan, setelah berlama-lama di atas mobil pick up dengan kaki yang kaku. Oh ya, jangan lupa setelah sampai langsung carter kembali mobil yang mengantarkan kita tadi dan sekalian catat nomor telepon bapaknya, ini untuk mengontak bapaknya agar besok kalau kita mau pulang bisa diangkut kembali balik turun ke bawah, dan pastinya nanti bayar lagi juga.

Setelah sesampai di kaki Gunung Papandayan, tahu nggak apa yang kita lakukan untuk pertama kalinya…?? hayoo..!!! pastinya foto-foto dulu donk… hahaha. Karena momen-momen seperti ini sulit untuk dicari, dan untung hobi kita sama semua… suka di-foto… 😀

Oh ya tahu nggak, apa yang kita lakukan lagi setelah sesampai di sana (setelah foto-foto maksudnya)…. hayoo… yang pasti beol…. nggak tahu sekarang koq emang demen banget sama yang namanya beol… 😀 #abaikan, gk penting.

Nah sekarang bagi teman-teman yang pingin pergi jalan-jalan ke Gunung Papandayan sudah tahu khan, harus naik apa dan kemana dulu. Nggak perlu takut kesasar seperti anak hilang, khan kita punya mulut dan bisa baca, sebenarnya dengan dua modal itu kita bisa sampai lokasi, toh dari kita juga belum pernah yang ada ke sana sebelumnya.

Pelajaran 2 –> *Di dalam bepergian, mulut dan bisa membaca petunjuk jalan adalah modal penting selain kompas*

Seru kan.. kalau teman-teman masih ingin membaca lanjutan kisahku tentang survive di Puncak Papandayan, teman-teman bisa baca tulisanku selanjutnya di ‘Menaklukkan Gunung Papandayan‘. Nggak kalah seru dan menarik dengan cerita yang di atas. Selamat menikmati.

BONUS. Ini ada gambar yang menurutku absurd sekali, ini diambil dalam perjalanan pulang. Please don’t try at home by your motorcycle…

Advertisements

Cerita jalan-jalan ke Bandung (part II) ini sebenarnya merupakan lanjutan dari kisah jalan-jalanku ke Bandung yang sebelumnya pernah aku tulis, kalau ingin melihat keseruan cerita sebelumnya bisa klik di sini.

Sebenarnya tujuan aku pergi ke Bandung ada yang jelas dan ada sebagian yang gak jelas-jelas banget, mirip wajahku kalau dilihat dari atas Monas *_*, apalagi kalau waktu malam hari. Ini beberapa tujuanku jalan-jalan ke Bandung :

1. Refreshing hati dan refreshing mata

Ntah kenapa setelah sampai di kota yang terkenal dengan sebutan Paris van Java ini, seolah-olah aku merasa ada yang beda dan enak untuk dilihat, atau karena setiap yang aku lihat adalah pemandangan semua, dan semua pemandangan itu rata-rata pegunungan, mulai dari gunung yang terlihat di pematang sawah sampai ‘gunung kembar’ yang terlihat banyak di tempat-tempat obyek wisata…. (nah lho gunung kembar apaan yang ada di tempat obyek wisata.. :D), dan yang jelas udaranya sejuk dan dingin, itu yang paling aku suka.

2. Survey mojang Bandung

Banyak orang bilang selain pemandangan alamnya yang bagus, cewek-cewek Bandung juga cantik-cantik atau istilah Sundanya mojang-mojang Bandung itu geulis-geulis euy… (*padahal dalam bahasa jawa geulis itu pengucapannya jadi gelis, yg tidak lain artinya gelis = cepat, jadi nggak ada salahnya bisa diartikan bahwa cewek-cewek Bandung itu cepat-cepat, emang atlet pelari cepat apa… -_-” maksa hehehe). Kesimpulan dari akulturasi bahasa Sunda dan Jawa, jadinya cewek-cewek Bandung itu cantik-cantik dan rata-rata adalah atlet pelari cepat…  (*tetap masih maksa -_-” gabungin arti yg malah tidak bermakna).

Hasilnya memang benar apa kata orang sebagian besar cewek di Bandung (atau Sunda) itu cantik-cantik, bisa atuh dijadikan referensi teman pendamping hidup… 😀 hehehe. Gak salah kalau kota ini akhirnya dijuluki Kota Kembang. Hanya saja study bandingku waktu itu tidak sampai meneliti lebih lanjut tentang kehidupan mereka karena nggak bisa lama-lama di sana. Bagiku kecantikan fisik bukanlah satu-satunya hal yang mutlak, melainkan kecantikan hati yang paling penting… *cieeelaa, tapi kalau bisa menemukan dua-duanya kenapa tidak… *maunya
MySpace
*oh ya foto yang di atas itu bukan aku sendiri yang ambil tp aku ambil dari internet, aku mana berani coba ngambil foto kaya gitu, takutnya setelah foto’in mereka malah aku nanti dikejar-kejar minta tanda tangan lagi.. 😀

3. Berkunjung ke Gedung Sate

Dulu ketika waktu aku masih kecil, pertama kali mendengar istilah Gedung Sate yang terlintas dipikiranku itu macem-macem, pernah terlintas gedung sate itu gedung yang di dalamnya digunakan untuk tempat berjualannya sate dan isinya penuh dengan orang-orang Madura… 😀

 + =    

Eh setelah usut punya usut aku baru tahu kalau gedung sate itu bukan tempatnya orang jualan sate atau semacam tempat kuliner gitu tapi ternyata tempatnya orang yang suka makan sate… hehehe *eh salah lagi ya. Ternyata yg benar adalah merupakan Gedung Pemerintahan Gubernur Jawa Barat, jadi kesimpulannya jauh sekali dan tidak ada hubungannya dengan orang Madura dan makanan sate.

Sebenarnya dari awal tidak ada rencana mau jalan-jalan ke Gedung Sate, tapi lha koq malah kesasar ke sini. Memang beginilah kalau orang tidak punya rencana, hidupnya kaga’ jelas. Pesan moral:“Mumpung masih muda, marilah buat impian dan rencana masa depanmu agar hidupmu kelak lebih terarah”

4. Cari warung makan

Jauh-jauh ke Kota Kembang, aslinya aku juga mau pindah warung makan dari Jakarta ke Bandung (alias mau kuliner) sekalian pindah tempat WC.. hehe. Siapa sangka ternyata perjalananku ke Gedung Sate tidak sia-sia, karena tepat di depan gedung itu ada area yang sangat luas, banyak juga orang-orang dari berbagai usia, mulai dari kakek-nenek, pak de-bu de, anak kecil, orang dewasa, muda-mudi, pria-wanita sampai waria… :D. Mungkin menurut aku tempat ini biasanya aku kenal dengan nama alun-alun, tapi ternyata orang bilang itu adalah Gazebo… (mungkin karena tempatnya yang Gak Zelas Boo’). Berbagai macam aktivitas juga banyak ditemui, ada yang main bola, ada yang jualan makanan, ada yang pingin foto-foto (red: narsis), ada orang yang cuman mampir cari WC, bahkan sampai ada juga yang memadu asmara (red: pacaran) dipojokan-pojokan… hadeeh -_-“. Makanya itu aku tidak heran kalau tempat ini akhirnya diberi nama Gazebo (Gak Zelas Boo’).

Setelah lama muter-muter gak jelas lihat-lihat lokasi di situ, saatnya mau cari sesuatu yang bisa di makan. Jauh-jauh ke sini aku gak mau cari makanan yang biasa-biasa saja dan sering ditemui di Jakarta, maunya sih makan makanan yang aneh-aneh khas Bandung gitu, seperti tai kucing selai keju, es duren sari air liur, atau saus kepiting bumbu ingus (*kalau ada). Akhirnya nemu juga makanan yang aneh dan ini pertama kalinya aku makan makanan ini, “Tahu Gejrot” namanya (meskipun di Jakarta sepertinya juga ada ya). Meskipun isinya hanya tahu, jangan salah harganya bisa sampai Rp 5.000,- per porsinya.

Tahu Gejrot termasuk makanan yang memiliki kategori kejam dan penuh aksi anarkis, karena tahu yang begitu lugunya langsung disobek-sobek bercerai berai begitu saja, setelah itu digilas-gilas dengan cobek tapi tidak sampai hancur. Bagi orang yang tidak terbiasa melihat aksi yang kejam seperti ini, jangan sekali-kali melihat proses membuatnya apalagi melototi orang yang jual. Kemudian tahu itu siap disajikan dengan bumbu yang mereka bikin dengan bawang merah, campuran air asam ditambah gula merah. Pertama coba memang enak sekali sampai 3-4 lahapan, tapi lama-kelamaan ternyata rasanya bikin orang jadi bete, seperti tiba-tiba tersambar petir di siang bolong.
MySpace

5. Silaturahim ke rumah Saudara

Kisah perjalananku di Bandung tidak akan berjalan mulus kalau tidak ada saudara di sana, untung dengan ada saudara di sana aku bisa mencari referensi dan bantuan. Tapi sejak saat itu sebenarnya aku bepergian liburan tidak sebebas-bebasnya orang yang sedang liburan, karena sesampai di rumah saudara ternyata aku malah lebih mirip jadi seperti pengasuh anak (*mengasuh anak-anaknya tanteku.. -_-“), gak papa setidaknya dengan begini bisa belajar bagaimana nanti jika punya anak biar nggak kaget.. (padahal istri aja belum ada -_-“).

*Cerita setahun yang lalu, yang baru sempat ditulis sekarang. JUST WRITE.-

 

Ternyata seru juga menjadi Backpacker. Jalan-jalan ke Bandung adalah pengalaman pertama kalinya aku menjadi Backpacker dengan bepergian sendiri (*ya beginilah nasib perjaka rantau kemana-mana selalu sendiri -_-“) dengan tujuan yang tak jelas kemana seperti orangnya (baca: aku).

Ada banyak sekali cerita seru yang aku dapatkan selama jalan-jalan ke sana, mulai dari cerita yang bikin ketawa sampai cerita bikin orang kesel, cerita mulai pingin nginjek kakinya orang eh malah kena injek duluan, dan cerita mau sok-sok’an pakai bahasa Sunda eh malah bingung sendiri diajak ngomong bahasa Sunda (padahal kemampuan bahasa Sunda-ku gk jauh-jauh dari aya’ naon, kumaha’, damang, ini teh susu… aa’ mau susunya teh… lho3x, maunya :p)
MySpace

Pesan 1st : Jangan sekali-sekali mengajak ngobrol orang Bandung pakai bahasa Sunda jika kita belum bisa berbahasa Sunda. Mereka ngomong bahasa Sunda, kita hanya bisa.. hah.. heh.. hah.. heh.. kaya’ orang blo’on, maksud hati mungkin ingin beli sesuatu menawar pakai bahasa Sunda supaya dapat barang lebih murah (*persepsi kebanyakan orang) eh tapi malah yang didapat kita jadi semakin bingung.

Sebenarnya kalau pingin bepergian ke Bandung dari Jakarta gak mahal-mahal amat, cukup bawa Rp 60.000.- udah sampai sana (tapi habis itu gak bisa kembali lagi… hihihi), tapi ini lain lagi kalau mau bawa sepeda motor sendiri atau berpergian dengan kendaraan pribadi sendiri lainnya. Ada juga cara yang nggak pakai bayar sama sekali, tapi hanya perlu keberanian, nggandol truk misalkan, atau pura-pura jadi pedagang asongan di kereta api ekonomi atau lebih nekat lagi naik ke atas atap kereta juga bisa… hehehe, tapi dua cara yang terakhir ini not recommended lho, aku tidak mau bertanggung jawab kalau nanti di televisi atau koran muncul berita ada anak muda jatuh dari truk atau tergenjet di gerbong kereta api ingin bepergian ke Bandung karena setelah mengikuti saran dari sebuah blog apalagi lebih-lebih bawa nama blogku.

MySpace

***

Kisah seru berawal dari ketika berangkat menuju Bandung aku memakai kereta ekonomi “Serayu”, sampai-sampai aku tidak bisa membedakan ini di dalam kereta api atau di dalam (maaf) kandang yang penuh sesak. Mungkin beda-beda tipis dengan acara konsernya Justin Bieber kali ya, kalau di sini penuh sesaknya berdempet-dempetan dengan mak-mak, kakek-nenek, bapak-ibu yang kebanyakan memakai “parfum” minyak angin dan pingin sekali menghindar berharap cepet-cepet sampai tujuan. Sedangkan kalau di konsernya Justin Bieber kita berdesak-desakan dengan para ABG yang cantik-cantik, bening-bening dan memakai parfum yang wangi-wangi serta berharap untuk selalu didempet dengan pasrah dan berdoa supaya acaranya tidak cepat-cepat selesai… hehehe (*kaya’ pernah ikutan lihat konsernya Justin Bieber saja)

Pesan 2nd: Kalau mau bepergian selalu-lah berada duduk di dekatnya cewek cantik biar hati selalu tenang dan nyaman bahkan kamu akan terkena bau wangi parfumnya meskipun kamu belum mandi dan bau apek.. :D, tapi kalau kamu berdekatan dengan mbah-mbah, bapak-bapak atau ibu-ibu kamu akan terkena baunya minyak angin dan jika kamu tak tahan baunya akan membuat kamu menjadi tidak nyaman… hehe
MySpace

Kembali ke topik, sebenarnya aku tidak ada rencana untuk naik kereta ekonomi “Serayu” ini, cuman karena hanya satu-satunya kereta ini yang bisa mengantarkan aku langsung menuju Kiara Condong (Bandung) akhirnya aku naiki saja… *ngeles. Kalau tidak salah harga tiketnya sekitar 20-30 ribu, cukup tidak sepadan dengan fasilitasnya. Kebetulan karena aku belinya agak mepet dengan jadwal keberangkatan otomatis aku dapat tiket “bebas tempat” duduk, yang artinya bisa duduk dimana saja selain di kursi (alias tiket berdiri), di WC bisa, di antar gerbong bisa, bahkan sampai di atap kereta sekalipun kalau mau juga bisa, sayangnya duduk di pangkuan cewek nggak boleh… -_-” . Alhasil aku harus berdiri sampai sekitar 3-4 jam (mulai dari jam 8 malam sampai jam 12 dini hari), saking lamanya berdiri sampai-sampai aku mati gaya harus berdiri dengan gaya seperti apa lagi, kalah dengan lamanya tentara yang harus berdiri terus waktu upacara.

Penderitaanku berlanjut ketika sampai di stasiun Kiara Condong, karena kereta datang pas dini hari saudaraku tidak bisa menjemput dan akhirnya aku terpaksa harus tidur di stasiun untuk pertama kalinya.

Tapi bagiku kereta ekonomi itu mirip seperti toserba (toko serba ada) di atas rel, semuanya ada mulai dari ada yang jualan peniti, potongan kuku sampai jualan boneka-bonekaan, mulai dari yang ada jago puisi sampai jago nyanyi dangdut (alias pengamen), mulai dari profesi karyawan swasta (baca: aku) sampai tukang pijet, mulai dari ada yang bawa beras sekarung sampai bawa ayam hidup. Dengan beginilah aku sangat-sangat mengetahui bagaimana ‘orang cilik’ bertahan dan bisa survive dengan kehidupan mereka, dan seharusnya pemerintah harus lebih berpihak dengan kegiatan-kegiatan ekonomi ‘orang cilik’ bukan dengan malah membuat mall-mall besar yang mematikan ekonomi rakyat kecil.

Meskipun begitu ada beberapa hal yang membuatku suka dengan naik kereta ekonomi adalah penumpangnya, penumpang di kereta api ekonomi itu berbeda dengan penumpang yang ada di kereta api sekelas bisnis ataupun penumpang sejenis pesawat. Penumpang di sini lebih suka berinteraksi, ramah, dan suka bercanda yang berbeda dengan penumpang sekelas “orang kaya” yang sangat sok jaim, yang kecenderungan selalu dalam pikirannya “emang loe siapa”, “emang gue pikirin”.

***

Mengingat masih terlalu panjang dan lebarnya tulisan kisah perjalananku di Bandung, untuk kelanjutan cerita serunya kalian bisa lihat dan klik di Jalan-jalan ke Bandung (Part II). Karena biasanya kalau terlalu panjang aku merasa kasihan kepada ibu-ibu dan kalau terlalu lebar aku juga jadi kasihan sama bapak-bapaknya, sama-sama tidak merasa enak (hanya orang-orang berusia 17+ yang paham dengan kalimatku yang terakhir). Kalau bapak-bapak sukanya cerita yang singset-singset (singkat) dan ibu-ibu sukanya sama cerita yang memiliki berbobot gede-gede (banyak makna)… hihihi