Archive for the ‘Renungan’ Category

Hari ini ane lagi sakit mata dan pingin cari tahu obatnya di internet, ketika browsing ane tidak sengaja ketemu dengan artikel ‘obat sakit mata’ yang menurut ane mustajab untuk menyembuhkan ‘mata hati’ ane meskipun bukan mata ane sungguhan. Menurut ane bagus untuk di-share, silahkan disimak..

Titik Buta (Blind Spot)

Semua petinju profesional memiliki pelatih. Bahkan, petinju sehebat Mohammad Ali sekalipun juga memiliki pelatih. Padahal jika mereka berdua disuruh bertanding jelas Mohammad Ali-lah yang akan memenangkan pertandingan tersebut.

Mungkin kita bertanya-tanya, mengapa Mohammad Ali butuh pelatih kalau jelas-jelas dia akan menang melawan  pelatihnya? Kita harus tahu bahwa Mohammad Ali butuh pelatih bukan karena pelatihnya lebih hebat, namun karena ia butuh seseorang untuk
melihat hal-hal yang …
“TIDAK DAPAT DIA LIHAT SENDIRI”

Hal yang tidak dapat kita lihat dengan mata sendiri itulah yang disebut dengan “BLIND SPOT” atau “TITIK BUTA”.
Kita hanya bisa melihat “BLIND SPOT” tersebut dengan bantuan orang lain.

Dalam hidup, kita butuh seseorang untuk mengawal kehidupan kita,
sekaligus untuk mengingatkan kita seandainya prioritas hidup kita
mulai bergeser.

Kita butuh orang lain
Yang menasihati,
Yang mengingatkan,
Bahkan yang menegur jika kita mulai melakukan sesuatu yang keliru,
Yang bahkan kita tidak pernah menyadari.

KERENDAHAN HATI kita
Untuk menerima kritikan,
Untuk menerima nasihat,
Dan untuk menerima teguran itulah yang justru menyelamatkan kita.

Kita bukan manusia sempurna.
Biarkan orang lain menjadi “mata” kita di area ‘Blind Spot’ kita sehingga KITA BISA MELIHAT apa yang TIDAK BISA KITA LIHAT dengan pandangan diri kita sendiri..

Mudah2an Bermanfaat

Impian itu termasuk doa yang secara tidak sadar selalu kita ucapkan ketika kita mengingatnya.

Setuju atau tidak? tapi itulah menurutku.

Ketika masih duduk di bangku TK ataupun SD, pasti di antara kita pernah ditanya oleh guru kita “Anak-anak, apa cita-cita kalian nanti ketika dewasa?“, dan mungkin dari kita ada yang menjawab ingin menjadi dokter, ingin menjadi guru, atau bahkan ingin menjadi pilot. Suatu cita-cita yang wajar diucapkan oleh seorang anak kecil yang masih LUGU (*LUcu GUndek-gundek), cita-cita yang dia harapkan seketika dia melihat pekerjaan itu menarik untuknya. Begitu pun juga aku dulu yang ingin menjadi seorang pilot pesawat tempur karena merasa enaknya menjadi pilot yang bisa terbang kesana-kemari, dan kelihatan begitu hebatnya meliuk-liuk acrobatic di angkasa. Bagiku… waktu itu keren.

Namun setelah kita dewasa, adakah yang pernah terbesit berpikir, apakah cita-cita kita sewaktu masih kecil itu akan terus kita ingat dan kita kejar untuk meraihnya sampai saat ini?, mungkin sih masih ada beberapa di antara kita yang masih kukuh dengan cita-cita atau impiannya semasa waktu kecil, tapi ada juga dari kebanyakan kita sudah melupakannya. Tidak usah jauh-jauh, salah satu contohnya ialah aku, sewaktu kecil aku punya cita-cita untuk bisa menjadi pilot eh ternyata ketika dewasa aku hanya bisa menjadi seorang pegawai swasta, iya (masih) pegawai. Sebenarnya aku masih ingin bercita-cita untuk menjadi pengusaha. Semoga… Insya Alloh ke depannya nanti aku akan menjadi pengusaha, Amin3x, that’s my real cita-cita, ya paling tidak… (peng)usaha membesarkan anak sendiri.. 🙂

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan pertanyaan guru kita dan impian kita semasa kecil, justru pertanyaan seperti inilah yang membuat kita bisa punya mimpi, berani bermimpi dan menjadi orang yang berhasil di kemudian hari sesuai dengan apa yang kita inginkan. Banyak orang yg berhasil dan sukses dikarenakan dia berani bermimpi, berani menggantungkan cita-citanya setinggi langit, dan tentunya terus berikhtiar untuk mendapatkannya.

Kalau aku mengibaratkan,

sebenarnya impian/cita-cita itu adalah obor semangat yang selalu memacu kita untuk terus berjuang dan membuat diri kita agar tidak lupa, bahwa kita punya harapan masa depan yang lebih baik.

Ketika bermimpi setidaknya kamu sekarang sudah mulai berdoa dan mengetahui sampai sejauh mana kamu melangkah untuk menggapai cita-citamu.

Pernah sejenak terbesit, Aburizal Bakrie saja berani bermimpi dengan mendeklarasikan dirinya untuk menjadi calon Presiden, mengapa aku juga nggak ikutan, berani untuk mendeklarasikan apa saja impianku, meskipun aku bukan ingin menjadi calon Presiden jg. Menentukan sendiri seperti apa jalan hidupku dan menjadi apa aku kelak, meskipun aku tahu dan percaya bahwa Alloh Sang Khalik juga punya grand design jalan terbaik hidupku kelak. Dengan selalu berdoa dan berusaha, kita juga bisa mengubahnya. Ibaratnya kita punya sendiri usulan rencana hidup kita, diterima atau tidak Alloh yang memutuskan, tergantung seberapa kuat kita memohon dengan cara berdoa dan berusaha. Manusia boleh berencana, tetap Alloh yang menentukan.

Maka mulai saat ini… ingatlah selalu impianmu dan terus melangkah.

 

Salam

– A. Firmansyah –

*) Pidato Steve Jobs saat acara pelepasan wisudawan Stanford tahun 2005, diterjemahkan oleh Ellen Kristi

Aku merasa terhormat bersama kalian hari ini saat kalian diwisuda dari salah satu perguruan tinggi terbaik di dunia. Aku sendiri tidak pernah lulus dari kampus. Jujur kubilang, ini adalah momen paling intim yang pernah aku peroleh dengan acara wisuda perguruan tinggi. Hari ini aku ingin menceritakan tiga kisah dari hidupku. Itu saja. Tidak banyak-banyak. Cuma tiga kisah.Kisah pertama ialah tentang menghubungkan titik-titik.Aku putus kuliah dari Reed College setelah 6 bulan pertama, tapi masih ‘beredar’ sebagai mahasiswa lepas selama 18 bulan kemudian sebelum aku betul-betul keluar dari sana. Kenapa aku berhenti kuliah?

Semuanya dimulai sejak aku dilahirkan. Ibu biologisku seorang mahasiswi yang belum menikah, dan dia memutuskan untuk menyerahkan aku untuk diadopsi. Dia berkeras aku harus diadopsi oleh lulusan perguruan tinggi, sehingga semuanya sudah diatur supaya aku diadopsi sejak bayi oleh satu keluarga ahli hukum. Tapi saat aku muncul, keluarga itu memutuskan pada menit terakhir bahwa mereka ingin anak perempuan. Maka orangtuaku yang sekarang, yang sudah ada di daftar tunggu, mendapat telpon tengah malam: “Kami punya bayi lelaki yang tak diharapkan; kalian mau?” Orangtuaku menjawab: “Tentu saja.” Ibu biologisku mendengar bahwa calon ibu angkatku ini tidak pernah lulus kuliah sementara suaminya tidak pernah lulus SMA. Dia menolak menandatangani dokumen akhir adopsi. Dia baru menyerah beberapa bulan kemudian ketika orangtuaku berjanji suatu hari nanti aku akan kuliah.

Dan 17 tahun kemudian aku betul-betul kuliah. Tapi aku dengan naif memilih perguruan tinggi yang sama mahalnya dengan Stanford, dan semua tabungan orangtuaku yang kelas pekerja itu dihabiskan untuk membayar SPP. Setelah enam bulan, aku tidak melihat semua ini ada gunanya. Aku masih tidak tahu apa yang ingin aku kerjakan dalam hidupku dan tidak tahu juga bagaimana perkuliahan bisa membantuku mencari jawabannya. Dan aku terus menghabiskan uang yang telah ditabung orangtuaku seumur hidup mereka. Maka aku memutuskan untuk berhenti kuliah dan mengimani bahwa akhirnya semua akan baik-baik saja. Lumayan menakutkan situasi waktu itu, tapi sekarang saat menoleh ke belakang, itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah aku ambil. Pada menit aku putus kuliah, aku bisa meninggalkan kelas-kelas wajib yang tidak menarik minatku, dan mulai mengikuti kelas-kelas yang terlihat menarik.

Tidak semuanya romantis. Aku tidak punya kamar asrama, jadi aku tidur di lantai kamar-kamar temanku. Aku mengembalikan botol-botol minuman sehingga uang-uang deposit 5 sen (per botol) bisa kupakai membeli makan, dan aku akan berjalan 7 mil melintasi kota setiap Minggu malam untuk memperoleh seporsi makan malam lengkap di kuil Hare Krishna. Aku suka ini. Dan banyak sekali dari yang aku temui lewat proses mengikuti rasa ingin tahu dan intuisi ternyata akan menjadi tak ternilai harganya kemudian. Aku berikan satu contoh:

Reed College pada waktu itu menawarkan mata kuliah kaligrafi terbaik di seluruh negeri. Di mana-mana di kampus, setiap poster, setiap label di laci, dikaligrafi dengan tangan begitu indahnya. Karena aku sudah bukan mahasiswa resmi dan tidak mengikuti kelas-kelas wajib, aku memutuskan untuk ikut kelas kaligrafi untuk belajar membuatnya. Aku belajar tentang jenis huruf serif dan sanserif, tentang membuat variasi jarak di antara kombinasi huruf yang berbeda, tentang apa yang membuat satu tipografi terlihat bagus. Pengetahuan ini indah, halus secara artistik dan historis, sedemikian rupa sehingga tak bisa ditangkap oleh sains, dan aku menganggapnya memikat.

Tak ada bagian dari mata kuliah ini yang tampak berguna untuk hidupku. Tapi sepuluh tahun kemudian, ketika kami sedang merancang komputer Macintosh yang pertama, semuanya teringat kembali. Dan kami memasukkan semuanya ke dalam rancangan Mac. Inilah komputer pertama dengan tipografi yang indah. Kalau saja aku tidak pernah ikut kuliah lepas itu di perguruan tinggi, Mac tidak akan pernah punya jenis huruf bervariasi atau huruf-huruf yang ditata proporsioinal. Dan karena Windows cuma meniru Mac, mungkin saja tidak ada komputer pribadi yang akan punya semua itu. Kalau aku tidak pernah putus kuliah, aku tidak akan pernah ikut kelas kaligrafi ini, dan semua PC mungkin tidak akan punya tipografi indah seperti sekarang. Tentu saja mustahil ‘menyambung titik-titik’ dengan melihat ke masa depan saat aku masih di bangku kuliah. Tapi semuanya jadi sangat amat jelas jika aku menoleh ke belakang sepuluh tahun kemudian.

Sekali lagi, kalian tidak bisa menyambungkan titik demi titik sambil melihat ke depan; kalian hanya bisa melihat koneksinya saat melihat ke belakang. Jadi, kalian harus percaya bahwa titik-titik itu entah bagaimana kelak akan tersambung di masa depan kalian. Kalian harus mempercayai sesuatu — keberanian, takdir, jalan hidup, karma, apa pun sebutannya. Pendekatan ini tidak pernah mengecewakanku, dan telah menyebabkan semua perubahan dalam hidupku.

Kisahku kedua ialah tentang cinta dan kehilangan.

Aku beruntung — aku menemukan bidang yang aku cintai pada usia muda. Woz dan aku mendirikan Apple di garasi orangtuaku waktu umurku 20 tahun, dan dalam 10 tahun Apple bertumbuh dari sekedar kami berdua di garasi menjadi perusahaan senilai $2 milyar dengan lebih dari 4000 pekerja. Kami telah meluncurkan produk terbaik kami — Macintosh — setahun sebelumnya dan aku baru saja memasuki usia 30. Lalu aku dipecat. Mana mungkin Anda dipecat dari perusahaan yang Anda dirikan? Begini, sementara Apple berkembang kami merekrut seseorang yang aku pikir sangat berbakat untuk mengelola perusahaan ini bersama-sama, dan di tahun pertama kurang lebih semua berjalan lancar. Tapi kemudian visi kami tentang masa depan mulai berbeda arah dan akhirnya kami bertengkar. Ketika itu terjadi, Dewan Direksi memihak padanya. Maka pada usia 30 aku dipecat. Dipecat secara sangat terang-terangan. Apa yang telah menjadi fokus seluruh hidup dewasaku lenyap, dan rasanya hancur sekali.

Aku linglung selama berbulan-bulan. Aku merasa telah mengecewakan generasi wirausahawan masa lalu – aku gagal meneruskan tongkat estafet dari mereka. Aku bertemu David Packard dan Bob Noyce dan mencoba minta maaf karena membuat kekacauan ini. Aku ini orang gagal di mata masyarakat, dan aku bahkan berpikir untuk melarikan diri dari lembah ini. Tapi fajar berangsur-angsur menyingsing di hatiku — aku masih cinta bidang pekerjaanku. Rangkaian peristiwa di Apple tidak mengubah itu sedikit pun. Aku telah dibuang, tapi aku masih penuh cinta. Maka aku memutuskan untuk mulai dari nol lagi.

Waktu itu belum aku pahami, tapi ternyata dipecat dari Apple adalah peristiwa terbaik dalam hidupku. Beban berat kesuksesan digantikan oleh langkah ringan menjadi pemula lagi, serba kurang pasti tentang segala sesuatu. Ini membebaskan aku untuk memasuki salah satu periode paling kreatif dalam hidupku.

Selama lima tahun berikutnya, aku mendirikan perusahaan bernama NeXT, dan perusahaan lain bernama Pixar, dan jatuh cinta pada seorang perempuan menakjubkan yang kemudian menjadi istriku. Pixar kemudian menciptakan film cerita animasi komputer pertama di dunia, Toy Story, dan sekarang adalah studio animasi paling sukses di dunia. Lewat rangkaian peristiwa yang ajaib, Apple membeli NeXT, aku kembali ke Apple, dan teknologi yang kami kembangkan di NeXT menjadi jantung dari kebangkitan kembali Apple saat ini. Dan Laurene dan aku membangun keluarga yang luar biasa bahagia.

Aku yakin semua ini tak akan terjadi kalau aku tidak dipecat dari Apple. Obat itu rasanya pahit, tapi kupikir pasien perlu meminumnya. Kadang hidup menghantam kepalamu dengan batu bata. Jangan kehilangan iman. Aku yakin bahwa satu-satunya alasan aku terus maju adalah karena aku cinta apa yang aku kerjakan. Kalian harus menemukan apa yang kalian cintai. Baik pekerjaan ataupun pasangan. Karir akan mengisi sebagian besar waktu hidupmu, dan satu-satunya cara untuk sepenuhnya puas adalah melakukan apa yang kau yakini sebagai pekerjaan besar. Dan jalan satu-satunya melakukan pekerjaan besar adalah dengan mencintai melakukannya. Kalau kau belum menemukan, teruslah mencari. Jangan menetap dulu. Seperti semua perkara hati lainnya, kau akan tahu itulah dia saat kau menemukannya. Dan, seperti semua kisah cinta sejati lain, segalanya akan menjadi makin lama makin indah sementara tahun-tahun bergulir. Jadi teruslah mencari sampai kau mendapatkannya. Jangan menetap dulu.

Kisah ketigaku ialah tentang kematian.

Saat aku berumur 17, aku membaca kutipan yang isinya kurang lebih: “Kalau kau menjalani setiap hari seolah-olah itu hari terakhirmu, pada suatu hari pasti itu benar terjadi.” Sangat berkesan buatku dan sejak saat itu, selama 33 tahun terakhir, aku setiap pagi bercermin dan menanyai diri sendiri: “Kalau hari ini adalah hari terakhirku, apa aku mau menjalani apa yang aku rencanakan hari ini?” Dan kapan pun jawabannya TIDAK selama begitu banyak hari berturut-turut, aku tahu ada yang perlu aku ubah.

Mengingat bahwa aku akan segera mati adalah perangkat paling penting bagiku untuk membantuku membuat keputusan-keputusan besar dalam hidup ini. Karena hampir segalanya — semua target eksternal, semua kebanggaan, semua ketakutan akan rasa malu atau kegagalan — hal-hal ini akan rontok di hadapan maut, yang tertinggal hanya yang betul-betul penting. Mengingat kita akan segera mati adalah cara terbaik yang aku tahu untuk menghindari jebakan pikiran bahwa kau bisa kehilangan sesuatu. Kau sudah telanjang. Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti kata hatimu.

Sekitar setahun lalu aku didiagnosis kanker. Aku di-scan pukul 7:30 pagi, dan tampak jelas sekali ada tumor di pankreasku. Aku bahkan tidak tahu apa itu pankreas. Para dokter menjelaskan ini jenis kanker yang tak bisa disembuhkan, dan harapan hidupku tidak lebih panjang dari tiga sampai enam bulan. Mereka menganjurkan aku pulang dan membereskan semua urusan, suatu kode para dokter tentang bersiap untuk kematian. Artinya, berusaha memberitahu anak-anakmu apa yang tadinya kau pikir akan kau lakukan dalam waktu 10 tahun, hanya dalam beberapa bulan. Artinya, memastikan semua diamankan sehingga keluargamu akan menjalaninya semudah mungkin. Artinya, mengucapkan selamat tinggal.

Aku dihantui diagnosis itu sepanjang hari. Malam itu aku dibiopsi, mereka memasukkan endoskop menuruni kerongkonganku, lalu perutku dan ususku, mencucukkan jarum ke pankreasku dan mengambil sedikit sel dari tumor itu. Aku dibius, tapi istriku, yang menemani di sana, bercerita bahwa ketika mereka meneliti sel-sel itu dengan mikroskop, para dokter itu mulai menangis karena ternyata itu jenis kanker pankreas yang sangat langka tapi masih bisa disembuhkan lewat operasi. Aku menjalani operasi itu dan sehat sampai sekarang.

Di sini aku merasa dekat sekali dengan kematian, dan aku harap tidak lebih dekat lagi sampai beberapa dekade ke depan. Setelah melewatinya, aku sekarang bisa cerita tentang kematian dengan lebih yakin daripada ketika kematian itu sekedar, meski berguna, konsep intelektual murni bagiku.

Tak ada orang yang mau mati. Bahkan orang yang ingin ke surga juga tidak mau mati cepat-cepat. Tapi kematian adalah terminal akhir yang kita semua tuju. Tak ada yang bisa melarikan diri. Dan memang sebaiknya begitu, karena Kematian sangat mungkin adalah satu-satunya penemuan terbaik dari Kehidupan. Ia adalah agen pengubah Kehidupan. Ia membersihkan yang tua bagi yang muda. Saat ini yang muda itu adalah kalian, tapi satu hari tak lama lagi, kalian akan menjadi yang tua dan akan dibersihkan. Maaf kalau terlalu dramatis, tapi ini benar.

Waktumu terbatas, jadi jangan menyia-nyiakannya dengan hidup sebagai orang lain. Jangan terjebak oleh dogma — yakni hidup dalam hasil pikiran orang lain. Jangan biarkan keriuhan opini orang menenggelamkan suara hatimu sendiri. Dan yang paling penting, milikilah keberanian untuk mengikuti hati dan intuisimu. Keduanya entah bagaimana sudah tahu kau sebetulnya ingin jadi apa. Semua pendapat lain itu nomor dua.

Waktu aku muda, ada terbitan hebat bernama The Whole Earth Catalog, yang menjadi salah satu kitab suci generasiku. Penciptanya adalah seorang bernama Stewart Brand yang berasal tak jauh dari sini di Menlo Park, dan dia menghidupkan terbitan itu dengan sentuhan puitisnya. Waktu itu akhir 1960-an, sebelum adanya komputer pribadi dan perangkat lunak penerbitan, maka semuanya masih dibuat dengan mesin ketik, gunting, dan kamera polaroid. Hasilnya semacam Google dalam bentuk buku bersampul tipis, 35 tahun sebelum Google datang: terbitan itu idealistik dan berlimpah perangkat keren dan gagasan hebat.

Stewart dan timnya mengeluarkan beberapa edisi The Whole Earth Catalog, dan ketika mereka sudah tak mampu lagi, mereka mengeluarkan edisi terakhir. Waktu itu pertengahan 1970-an, dan aku masih seumur kalian. Di sampul belakang dari edisi terakhir itu ada foto jalan pedesaan di pagi hari, tempat yang mungkin kalian susuri kalau kalian petualang. Di bawahnya adalah kata-kata: “Stay Hungry. Stay Foolish“, tetaplah merasa lapar, tetaplah merasa bodoh. Itu adalah pesan perpisahan sementara mereka mengundurkan diri. Tetaplah merasa lapar. Tetaplah merasa bodoh. Dan aku selalu mengharapkan itu bagi diriku sendiri. Dan sekarang, sementara kalian diwisuda untuk memulai kehidupan baru, aku mengharapkan itu bagi kalian.

Tetaplah merasa lapar. Tetaplah merasa bodoh. Terima kasih.

Aku dalam Do’aku

Posted: February 26, 2012 in Renungan
Tags: , , ,


Ya Alloh, Ya Dzaljalaliwal Ihrom

Ya Alloh, Wahai Tuhanku, Tuhan pemilik seluruh apa-apa yang ada di langit dan bumi
Tuhan pemilik alam semesta
Ya Alloh, mudahkan aku dalam mencari rezekiMu
Karuniakanlah dan cukupkanlah kepadaku rezeki yang halal, dan yang barokah di sisiMu
Dan pilihkanlah aku dengan pekerjaan-pekerjaan yang baik bagiku
Jadikan aku menjadi pribadi yang dapat “kerjo mempeng,tirakat banter”
Jadikan aku selalu ada dalam kesederhanaan/tidak isrof dengan segala limpahan rezekiMu
Dan selalu bersyukur terhadap setiap rezeki yang Engkau berikan kepadaku

Apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah,
apabila berada di dalam bumi maka keluarkanlah,
apabila sukar mudahkanlah,
apabila haram sucikanlah,
apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaranMu
datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh


Ya Alloh Ya Rahman Ya Rakhim…
Ya Dzaljalahliwal ihrom…

“Allahummaghfirli Wali-wali dayya Warkhamhumah Kama Robbayani Shoghiroh”

Wahai dzat yang melindungi hamba-hambanya.
Lindungilah keluargaku Ya Alloh dari segala marabahaya
Lindungilah kedua orang tuaku dengan sebaik-baiknya,
Jagalah mereka, senangkan hati mereka, dan mudahkan segala urusan mereka Ya Alloh
Lindungilah, jagalah, dan senangkanlah hati mereka
sebagaimana mereka telah melindungiku, dan menjagaku
serta menyenangkan hatiku di kala masa kecilku.

Dan untukku dan untuk adik-adikku,
berikanlah kami juga perlindunganmu,
Jadikanlah kami menjadi anak yang alim, faham, dan faqih dalam urusan agama
Jadikanlah kami menjadi anak yang senantiasa berakhlaqul karimah
Jadikanlah kami menjadi anak yang mandiri
dan mudahkan urusan-urusan kami dalam menggapai cita-cita kami,
dan mewujudkan harapan-harapan kami menjadi orang yang sukses
baik dalam urusan dunia dan akhirat.

Buatlah masa depan kami menjadi masa depan yang cerah,
menjadi anak-anak yang tetap berbakti kepada orang tua kami,
menjadi anak-anak yang berguna untuk mereka, dan agamaMu
dan dapat menyenangkan serta membuat senyum hati kedua orang tua kami.

“Robbana Latuji’ Qulubana, Ba’dait Hadaitana, Wa Hab Lana Mil Ladunka Rohmah, Innaka Antal Wahhab”

Ya Alloh, Ya dzaljala liwal ihrom…
Wahai dzat yang membolak-balikkan hati
Tetapkanlah hati kami dalam keimananmu,
dan tambahkanlah selalu kami akan kepahaman AgamaMu,
tumbuhkan semangat perjuangan Quran Hadist dalam diri kami
Senantiasa bimbinglah kami tetap dalam jalanMu,
Agar kami dapat menjadi keluarga yang utuh dalam dunia-akhirat
Bersama-sama bisa masuk surga dan selamat dari nerakaMu Ya Alloh…

“Rabbana Dholamna Angfusana Waillam Taghfirlana Warkhamna Lanakunanna Minal Khosirin”

Ya Alloh Ya Rahman Ya Rakhim…
Ya Robb, Ampunilah dosa-dosa kami,
Memang kami adalah tempatnya segala salah dan khilaf
Ampunilah dosa-dosa yang telah kami perbuat,
baik yang telah kami lakukan dalam kesengajaan maupun tidak
Hanya kepadaMu lah kami memohon ampunanMu
dan memohon taubat atas segala kesalahan serta dosa-dosa yang kami perbuat.


Ya Alloh Ya Rahman Ya Rakhim…
Ya Dzaljalahliwal ihrom…

“Rabbana min azwajina, wadurriyatina qurrota ‘ayun, waj’alna lilmuttaqina imamah”

Dengan seiring semakin bertambahnya usiaku dengan kesendirian
Dan ingin semakin menjaganya diriku agar tidak menjuruskanku dari segala perbuatan yang menuju ke arah kemaksiatan, kemungkaran dan lebih-lebih pada perbuatan haq
Dan keinginanku untuk menyempurnakan keimananku

Ya Alloh… maka karuniakanlah aku seorang pasangan yang beriman
Karuniakan aku istri yang sholehah dan sebaik-baiknya istri.
karena sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah istri yang sholehah
dan sebaik-baiknya istri adalah istri yang paling pintar menyenangkan hati suaminya
Seorang istri yang jika dilihat menyenangkan
bila dipandang menyejukkan dan
menentramkan bila berada didekatnya
Ketika diperintah ia patuh,
Ketika ditinggalkan ia dapat menjaga harta dan dirinya
Dan ketika salah ia mau diingatkan dan bisa saling mengingatkan
Supaya aku dan dia dapat membina kesejahteraan hidup
Ke jalan yang Engkau ridhai

Seandainya Engkau telah mencatatkan dia akan menjadi teman menapaki hidup bersamaku,
maka satukanlah hatinya dengan hatiku
Berikanlah kepadaku istri yang terbaik dari sisi-Mu,
istri yang aku lamar dan nikahi
dan istri yang menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat

Aku berdoa untuk seorang wanita yang akan menjadi bagian dari hidupku,
seseorang yang sungguh mencintai-Mu lebih dari segala sesuatu,
seorang wanita yang akan meletakkanku pada posisi kedua di hatinya setelah Engkau,
dan seorang wanita yang hidup bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk-Mu.

Wajah yang cantik dan daya tarik fisik tidaklah penting bagiku,
yang penting adalah sebuah hati yang sungguh mencintai dan dekat dengan Engkau
dan berusaha menjadikan sifat-sifat-Mu ada pada dirinya.

Dan kelak… karuniakanlah kepada kami juga keturunan-keturunan yang soleh/sholehah
Serta jadikan kami menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah warohmah
Dan menjadi keluarga yang utuh di dunia-akhirat

Tetapi ya Alloh, jika seandainya telah Engkau takdirkan dia bukanlah milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku
Dan gantilah dia dengan pilihan terbaik yang telah Engkau kehendaki

Ya Allah ya Tuhanku…
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hamba-hambaMu

“Robbana Atina Fiddunnya Khasanah, Wafil Akhiroti Khasanah, Waqina Adzabannar.”

Amin Ya Rabbal ‘Alamin.-

Di tulisanku kali ini, aku ingin mengajak teman-teman semua (khususnya untuk anak muda jaman sekarang, aku sih mah anak muda jaman dulu.. :D) untuk bisa sedikit merenung, pernahkah teman-teman sekali-kali merenungkan betapa beratnya ‘perjuangan’ dan kerja kerasnya Bapak-Ibu demi kebahagiaan teman-teman.

Miris sekali melihat anak-anak muda jaman sekarang, karena tidak sedikit dari mereka yang ketika permintaannya tidak dikabulkan (mis. pingin beli HP keluaran baru, pingin Gadget ini-itu, pingin dibelikan motor/mobil, minta uang saku yang banyak, beli sana, beli sini, minta ini, minta itu… atau minta dikawinkan, kalau ini mah nggak apa-apa asal sudah cukup umur lho) justru marah-marah, ngambek, pingin kabur dari rumah, dan menunjukkan sikap bermusuh-musuhan dengan orang tua sendiri, mengolok-oloknya seolah mereka adalah teman yang bisa seenaknya dicemooh, dan bahkan lebih-lebih di surat kabar tidak jarang kita temui berita jika anak sampai memukul dan membunuh orang tuanya. Naudzubillah…
MySpace
Tidak hanya itu, apalagi yang masih pelajar atau mahasiswa, sikap bermalas-malasan ketika sekolah/kuliah, nggak pernah belajar, suka bolos, senang tawuran, pacaran sana-sini sampai ke arah pergaulan bebas yang tidak jelas, hamil di luar nikah, dan lain sebagainya.

Sadarkah kita semua, justru perbuatan-perbuatan seperti itulah yang akan membuat orang tua teman-teman menjadi sedih dan membuat rugi diri teman-teman sendiri..

Hanya sedikit berbagi cerita dan kisah, based on my true story.

Aku sendiri lahir sebagai anak pertama dari 4 bersaudara. Papa seorang wiraswastawan (electronic service) yang tekun dan ulet, sedangkan Mama adalah seorang ibu rumah tangga yang baik hatinya sedunia. Meski saat itu keluarga kami hidup apa adanya (bukan yang semuanya ada, apalagi hidup pas-pasan… yang pas pingin mobil ada, yang pas pingin rumah ada itu bukan.. hehehe) tetapi kami selalu bersyukur dan merasa berkecukupan. Alhamdulillah ya (sesuatu)…

Merasa sangat kasihan sekali, melihat dari seisi rumah waktu itu hanya Papa saja yang bekerja pagi-siang-sore bahkan kalau sempat malam sekalipun, berusaha mencari rezeki yang halal meskipun hanya sedikit, yang kesemuanya itu untuk mencukupi kebutuhan kami ber-enam dalam menghidupi keluarga, dan menyekolahkan kami ber-empat. Keluarga kami memang harus ‘prihatin’, karena kita juga menyadari butuh biaya untuk sekolah dan kuliah tidaklah sedikit. Bekerja sebagai wiraswasta-wan apalagi di bidang jasa, tidak selalu menjanjikan dalam kesehariannya, terkadang hari itu bisa datang banyak customer tapi suatu saat bisa juga sepi, terkadang banyak juga sih sepinya :p. Ada yang susah untuk dikerjakan dan ada juga yang mudah, terkadang banyak juga yang susahnya.

Saking sederhananya, saat itu kami hanya punya Vespa aku lupa buatan tahun berapa, yang Papa gunakan kesehariannya untuk mengantar 2 adikku ke sekolah, mengantar ibu belanja, dan juga tentunya untuk pendukung kerja Papa ketika membeli spare part electronic (1 motor untuk berempat.. ^^). Dan satu lagi sepeda motor merk china (alias mochin) yang aku gunakan untuk berangkat kuliah bareng adikku hingga 4 tahun lebih (jelek tapi masih awet sampai sekarang.. :D). Malah pernah sewaktu masih SMP, ketika teman-teman memakai sepeda motor semua kita berdua pakai sepeda pancal, berboncengan berdua pula, sepeda yang boncengannya ada di belakang (kalau berduaan sama pacar mungkin romantis sekali, tapi ini sama adik, cowok lagi.. -_-!|). Tetapi kami tak pernah malu pernah melewati itu semua dan kami tetap bersyukur Alhamdulillah ya (sesuatu)

Saking sederhananya, saat itu makan ayam goreng (fried chicken) adalah sesuatu hal yang sangat istimewa untuk kami. Terkadang demi anak-anaknya Papa dan Mama rela tidak ikutan makan (Nasi Kotak) saat sepulang dari hajatan, mereka bawa pulang kotak nasi tersebut agar kita berempat bisa makan bersama ayam goreng itu… bahkan untuk tiap satu jenis kue saja kita bagi rata berempat supaya bisa merasakan semua… :D. Oleh karenanya kalau ada nasi kotak dari hajatan, tidak pernah hinggap lama di meja makan, apalagi snack untuk camilan.

Saking sederhananya, saat itu apapun kita lakukan untuk mencukupi kebutuhan dalam keluarga. Sewaktu masih mahasiswa aku gunakan waktuku tidak hanya untuk mencari ilmu di kampus, tapi terkadang juga aku gunakan waktu luangku untuk mencari uang saku tambahan, lumayan bisa ikutan membantu orang tua. Aku pernah jadi guru ekstrakurikuler elektro di sekolah swasta Islam, pernah juga mengajar les privat di rumah-rumah, ikutan kegiatan-kegiatan PKM (semacam lomba kreativitas mahasiswa, kalau usulan kita diterima oleh Dikti biasanya… kita dapat uang yang lumayan besar untuk mewujudkan proyeknya dan biasanya juga kita dapat sisa dananya..:D). Dari aktivitas ini semua, maka sejak saat itu (mungkin semester 2-an) aku tidak pernah meminta uang sepeser pun kepada Papa untuk membiayai uang semester kuliah. Karena juga lebih-lebih mulai semester itu aku dapat beasiswa terus-menerus. Alhamdulillah ya (sesuatu). Kata siapa kuliah harus memiliki banyak uang untuk bisa masuk perguruan tinggi negeri ternama, semuanya sudah aku buktikan, asal ada niat, usaha dan kerja keras Insya Alloh bisa.

Di saat teman-teman sibuk dengan HP terbarunya, kadang dalam hati hanya bisa bergumam “Kapan ya… bisa punya HP seperti itu” mau minta ke orang tua jelas tidak mungkin, apalagi untuk hanya bilang ingin punya HP seperti itu saja ke mereka malah tidak tega, ini semua hanya akan menambah beban pikiran dan membuat Papa-Mama semakin susah. Alhasil sampai SMU pun, aku tidak punya HP, baru ketika kuliah aku memiliki HP, itupun aku dapat dari tanteku yang sudah rusak dan alhasil berhasil aku perbaiki. Sejak saat itu aku punya HP tuk pertama kalinya, karena bukan model yang terbaru, HPku sekarang menjadi lebih ‘kuat’, kuat untuk menahan malunya… 😀 (karena teman-temanku sendiri prihatin ketika melihat aku punya HP yang begitu jadulnya.. :)). Tapi aku tidak pernah malu memakainya (meskipun temanku merasa malu melihatnya.. hehe) dan tetap bersyukur, yakin saja Insya Alloh aku bisa punya yang lebih bagus dengan keringatku sendiri. Itu semua tidak penting, yang terpenting aku bisa berprestasi itu sudah lebih dari cukup (semangatku dalam hati). Toh sekarang kita akhirnya punya HP sendiri-sendiri (malahan tergolong Smartphone) dan tentunya dengan keringat sendiri juga.

Memang kita bukan dari keluarga yang kaya, yang berpangkat, tetapi yang patut bisa kami banggakan meski kami hidup sederhana dengan segala keterbatasan, kami tetap bisa berprestasi. Alhamdulillah ya.. kita semua sejak dari SD, SMP, SMA dan Kuliah, kami selalu diterima dan masuk di sekolah dan perguruan tinggi negeri favorit bukan karena biaya yang besar tapi karena prestasi. Nih juga piala-piala yg pernah kita dapatkan…

Kita percaya bahwa Gusti Alloh ora sare (Alloh tidak akan tidur), atas ikhtiar, doa dan kerja keras, akhirnya roda itupun berputar dan kesabaran kita berbuah suatu berkah. Aku dan kedua adikku sekarang ini sudah mendapatkan pekerjaan dan memiliki upah sendiri-sendiri yang bisa kita gunakan untuk membantu keluarga dan adik yang paling kecil.

Pesan Papa-Mama

Nak, yg rajin belajarnya ya, biar jadi orang pinter dan sukses nantinya. Papa-Mama nggak bisa membekalimu dengan harta, mobil, dan rumah. Cari semua itu dengan bekal ilmu yg kamu miliki. Papa-Mama akan selalu mendoakan kalian agar tercapai semua cita-cita yang kalian impikan.

“Aku khawatir terhadap suatu masa yang rodanya dapat menggilas keimanan. Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yang tak berbekas dalam perbuatan. Banyak orang baik tapi tak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai, ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian. Ada ahli ibadah tapi mewarisi ke sombongan iblis. Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat. Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut. Ada yang berlisan bijak tapi tak memberi teladan dan ada pezina yang tampil jadi figur menawan.

Ada orang punya ilmu tapi tak paham, ada yang paham tapi tak menjalankan. Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tak tau diri. Ada orang beragama tapi tak berakhlak dan ada yang berakhlak tapi tak bertuhan.

Lalu di antara semua itu di mana aku berada..?”

-Na’udzubillah min dzalik-

[Ali bin Abi Thalib]

Di Jepang dulu pernah ada tradisi membuang orang yang sudah tua ke hutan. Mereka yang dibuang adalah orang tua yang sudah tidak berdaya sehingga tidak memberatkan kehidupan anak-anaknya.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berniat membuang ibunya ke hutan, karena si Ibu telah lumpuh dan agak pikun.

Si pemuda tampak bergegas menyusuri hutan sambil menggendong ibunya. Si Ibu yang kelihatan tak berdaya berusaha menggapai setiap ranting pohon yang bisa diraihnya lalu mematahkannya dan menaburkannya di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Sesampai di dalam hutan yang sangat lebat, si anak menurunkan Ibu tersebut dan mengucapkan kata perpisahan sambil berusaha menahan sedih karena ternyata dia tidak menyangka tega melakukan perbuatan ini terhadap Ibunya.

Justru si Ibu yang tampak tegar, dalam senyumnya dia berkata: “Anakku, Ibu sangat menyayangimu. Sejak kau kecil sampai dewasa Ibu selalu merawatmu dengan segenap cintaku. Bahkan sampai hari ini rasa sayangku tidak berkurang sedikitpun. Tadi Ibu sudah menandai sepanjang jalan yang kita lalui dengan ranting-ranting kayu. Ibu takut kau tersesat, ikutilah tanda itu agar kau selamat sampai dirumah”

Setelah mendengar kata-kata tersebut, si anak menangis dengan sangat keras, kemudian langsung memeluk ibunya dan kembali menggendongnya untuk membawa si Ibu pulang ke rumah.

Pemuda tersebut akhirnya merawat Ibu yang sangat mengasihinya sampai Ibunya meninggal.

‘Orang tua’ bukan barang rongsokan yang bisa dibuang atau diabaikan setelah terlihat tidak berdaya. Karena pada saat engkau sukses atau saat engkau dalam keadaan susah, hanya ‘orang tua’ yang mengerti kita dan batinnya akan menderita kalau kita susah.Orang tua’ kita tidak pernah meninggalkan kita, bagaimanapun keadaan kita, walaupun kita pernah kurang ajar kepada orang tua. Namun Bapak dan Ibu kita akan tetap mengasihi kita.

Mari kita merenungkan, apa yang telah kita berikan untuk orang tua kita, nilai berapapun itu pasti dan pasti tidak akan sebanding dengan pengorbanan ayah ibu kita.

Muliakan ia selagi masih hidup, dan doakan jika telah tiada.

Selamat Hari Ibu – 22 December 2011