Archive for November, 2011

Akhir bulan, bagi sebagian besar orang-orang merupakan waktu yang seringkali ditunggu-tunggu kedatangannya, terutama bagi mereka-mereka yang bekerja dan menerima penghasilan di akhir bulan. Oleh karena itu, efek dari keadaan ini membuat dan berdampak secara sistemik terhadap kegiatan perekonomian yang terjadi di masyarakat yang sangat menonjol… –> seperti pengamat ekonomi saja.. 😀

Karena pada akhir bulan tersebut, semua transaksi jual-beli dan kegiatan perekonomian lainnya menjadi meningkat, yang punya hutang /pinjaman sana-sini mulai melunasi hutangnya, yang biasanya nge-kos/ngontrak udah waktunya bayar ke bapak kontrakan, dan yang punya kreditan besar-besaran mulai dari kredit beli rumah, mobil atau sepeda motor sampai dengan kredit kecil-kecilan seperti beli panci, baju, celana dalam (*untuk yang ini masa’ beli celana dalam saja pakai kredit juga, kalau iya –> keterlaluan.. :D) dan lain sebagainya itu pun mulai diangsur. Jadi seolah-olah uang gajian hanya sekedar lewat saja bagi sebagian besar orang.

Negara kita memang unik, lihat saja kondisi mall-mall dan tempat perbelanjaan lainnya di tiap akhir bulan yang tidak pernah absen dari sepi pengunjung dan semakin berjubel. Nih contohnya gambar yang aku ambil kemarin dari salah satu tempat perbelanjaan di sudut perkotaan.

Kondisi yang ramai seperti ini, secara otomatis juga membuat antrian yang panjang juga dalam melakukan pembayaran di kasir. Percaya tidak percaya, menurutku antrian pembayaran ini nggak kalah lamanya juga dengan antrian kemacetan yang terjadi di jalanan atau pintu-pintu toll Ibukota. Bayangkan saja, antrian pembayaran yang hanya berjarak 5 meter saja menuju kasir memerlukan waktu hampir satu jam-an. Untung saja kasirnya cantik jadi nggak apa-apa deh berlama-lama nunggu antriannya, yaaa… sambil itung-itung lihat keindahan ciptaan Alloh yang lainnya… 😀

Kalau aku analisa sekilas, semua itu terjadi karena memang yang jumlah antrian banyak, dan rata-rata barang yang dibeli juga sangat banyak sekali. Rata-rata satu (keluarga) pembeli saja bisa bawa pembelanjaan sampai minimum 2 troli penuh. Coba lihat saja antrian troli dan barang-barang yang mereka beli yang ada pada gambar di bawah ini.

Rata-rata barang-barang yang mereka beli adalah barang-barang kebutuhan sehari-hari mulai dari makanan ringan hingga makanan berat seperti seperti snack, roti, biskuit, telur, beras dan barang-barang sensitif kewanitaan lainnya seperti pembersih ini-itu sampai pembalut juga tidak ketinggalan (sampai sekarang aku masih bingung tuh barang bagaimana cara pakainya, bukannya sama seperti pampers ya… sudah dewasa masih saja ngompol 😐 #abaikan), kalau diprosentasikan mungkin 75% barang kebutuhan makanan sehari-hari dan 25% barang-barang kewanitaan. Memang wanita itu banyak sekali biaya maintenance-nya… -_-!|. Mungkin seperti itu kali ya nanti kalau aku juga berkeluarga dan barang yang dibeli pun juga cukup banyak. Coba bandingin saja dengan barang belian punyaku, cukup satu tas saja dan isinya makanan semua.

Pelajaran hari ini, kalau Anda adalah para bujangan (dengan punya banyak uang), hindari datang ke tempat perbelanjaan pada akhir bulan jika tidak mau terkena macetnya antrian pembayaran di kasir. Karena waktu Anda akan terbuang percuma menunggu di antrian, maklum kita kan pebisnis dan setiap luang waktu itu penting dan bisa digunakan untuk kegiatan yang lain yang lebih bermanfaat (misalnya tidur, main game, dan nonton TV #eh). Jadi kalau mau ke sana tunggu sekitar seminggu kemudian atau kira-kira dirasa orang-orang sudah tidak punya uang dan tempat perbelanjaan mulai sepi… hehehe…

Selamat berbelanja dan ingat tuk menabung…. 😀

Advertisements

Menaklukkan Gunung Papandayan

Posted: November 20, 2011 in Cerita

Yaa… “Menaklukkan Gunung Papandayan” mungkin ini kali ya judul yang pas buat tulisanku hari ini, daripada aku tulis judulnya dengan “Segerombolan Pemuda Ramai-ramai Berbagi Kenikmatan di Puncak Papandayan” ntar jadinya mirip seperti tulisan yang berbau mesum dan 17+ saja, oh… atau aku ganti saja menjadi “Belum Ada Judul” malah jadi mirip seperti judul film porno… -_-” #eh iya tah itu judul film porno aku nggak tau lho, suer….

Oh iya, kalau ada yang belum tahu, cerita ini merupakan cerita lanjutanku dari cerita post sebelumnya yang judulnya ‘Serunya Kisah (Absurd) Perjalanan Menuju Gunung Papandayan‘. Cerita itu menjelaskan tentang bagaimana kisah perjalanan hingga menuju Gunung Papandayan. Nah untuk kali ini, aku akan bercerita fokus tentang kegiatan yang ada di Puncak Papandayan, kisah camping dan hal-hal absurd lainnya di sana.

Menaklukkan gunung Papandayan, ternyata sama susahnya dengan menaklukkan hatinya cewek. Susahnya di awal dan perlu usaha keras (maksudnya waktu mendaki ke puncak gunung lho ya), tapi kalau sudah kena, mau dinikmati seperti apa saja, enaknya minta ampun sampai bikin ketagihan lagi dan lagi, bikin ketagihan lihat pemandangan alam maksudnya (eh ini bahasannya tetap fokus lho ya masalah mendaki gunung, jangan berpikir ke yang aneh-aneh, emangnya aku mau cerita mesum apa..?? hhehe)

Oh ya, sebelum mendaki kita juga diharuskan menyerahkan dahulu KTP atau fotocopy-nya ke petugas yang jaga, agar terdaftar dan bisa membantu apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

08.30 WIB. Setelah cuci muka, bersih-bersih dan mempersiapkan perlengkapan pendakian lainnya, sekitar pukul itu kita mulai beranjak untuk mendaki menuju puncak… yes yes saatnya menuju puncak ‘kenikmatan’ gunung Papandayan. Oh ya, disetiap jalan pendakian ke atas kita tidak lupa untuk mengabadikan moment indahnya pemandangan alam pegunungan Papandayan dan sekaligus melakukan ritual rutin kita selama perjalanan, mau tahu ritualnya apaan, yaitu foto-foto seperti ini… hehehe *narsis bin exist


Perjalanan menuju ke atas memerlukan waktu yang lumayan cukup lama sekitar 4 jam, karena memang medan juga mungkin yang begitu keras dan berbatuan. Bahkan asap-asap belerang pun turut meramaikan perjalanan kita. Jalan naik turun dan terkadang jurang curam pun kita lalui.

Di tengah-tengah perjalanan kita ditemukan kejadian yang boleh aku bilang absurd. Siapa sangka coba, dengan medan yang ekstrim seperti gambar di atas ternyata kita dikagetkan dengan orang yang mendaki menggunakan sepeda motor yang lewat begitu saja di depan kita dengan seenaknya, apalagi sepeda motor yang digunakan sepeda bebek… -_-!, bayangkan saja… orang jalan susahnya minta ampun, eh malah dia pakai sepeda motor. Selintas kita pikir nggak mungkin sepeda motor itu bisa naik, eh ternyata kita salah, buset.. kalah dah sepeda motor rally dipegunungan dengan sepeda bebek orang itu…

Lama di jalan dan kehilangan arah membuat kita harus istirahat di tengah-tengah perjalanan menuju puncak sejenak, sambil mengembalikan arah perjalanan ke lokasi kita tuju. Sambil istirahat, makan bekal, kita juga tidak lupa melakukan ritual rutin…. foto-foto lagi maksudnya… hahahah *maklum beginilah kalau kita punya hobi yang sama… 😀

10.30 WIB. Setelah istirahat sebentar kita mulai lagi melakukan pendakian, kalau tidak salah waktu itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas. Perjalanan kita semakin diuji dengan datangnya hujan, basah-basahan sudah menjadi resiko, asal pakaian ganti dan peralatan elektronik kita aman di tas dari air hujan.

Pelajaran 1 –> “Di dalam melakukan perjalanan – outbond, kita harus mempersiapkan diri dan perlengkapan dengan segala cuaca”

Semakin ke atas, semakin tidak tahu arah kemana lokasi yang kita tuju, karena pada waktu itu kita hanya berpatokan kita harus menuju tempat yang paling tinggi. Dan secara tidak sadar pula ternyata kita menemukan tempat yang sangat aneh, semakin ke atas semakin putih pula tempatnya dan tidak ada tetumbuhan sama sekali kecuali batang pohon-pohon bekas terbakar oleh gunung meletus. Ketika itu pula kita ingat, wah ini dulu Gunung Papandayan kan sempat meletus belum lama, dan saat ini kita berada di titik paling dekat dengan bekas letusan gunung atau bahkan pas di tempat jalannya lava… wah busettt…

Kondisi kabut dan hujan yang datang tidak memungkinkan kita turun kembali dan kembali menuju jalan yang benar… :D, akhirnya kita memutuskan untuk membuat tenda di tempat tersebut. Sempat satu orang dari kita tidak setuju dengan mendirikan tenda di sini… awalnya juga aku nggak setuju, bayangkan saja sudah paling tinggi, kondisi hujan plus petir yang bergemuruh, ternyata tanah yang kita tempati itu ada bekas longsor yang jaraknya tidak jauh 20 meter dari tempat kita. Nggak lucu kalau kemudian besok kita semua muncul di TV dengan HotNews, “Ditemukan 7 Pemuda Tersambar Petir di Puncak Papandayan”, atau “7 Pemuda Tertelan Oleh Timbunan Tanah Longsor di Puncak Papandayan”. Ya, apadaya… karena kita memang tidak bisa turun dengan cuaca seperti ini dan mendapatkan resiko yang lebih besar membahayakan, akhirnya kita mendirikan tenda di tempat ini juga.

Malam itu pun aku nggak berhenti-hentinya berdoa supaya tidak terjadi apa dan nggak ingin mati duluan karena longsor apalagi sampai tersambar petir. Karena alasannya cuman satu, Ya Alloh saya khan belum menikah… belum merasakan nikmatnya dunia itu…. hehehe

Sekilas aku dan bahkan rekan-rekan lainnya secara nggak sadar, sepertinya kita merasa camping bukan di Gunung Papandayan, Garut melainkan di Pegunungan Alpen, Swiss yang penuh dengan salju putih dan udara yang sangat dingin. Tapi di sini bedanya putih bukan karena salju tapi karena bekas abu/lava… 😀

Tidak percaya nih hasil jepretan yang menggambarkan seolah-olah kita bukan di Mt Papandayan – Garut tapi Mt Alpen – Swiss…

Oh ya ada yang pingin tahu nggak, aktifitas seperti apa saja yang kita lakukan selama di puncak Papandayan..?? Nih aku kasih beberapa gambar-gambar yang sempat kita abadikan, mengingat koneksi inet yang lemot jadi aku upload hanya beberapa, kalau mau yang lainnya bisa cek album foto-fotonya di Facebookku.

Cuaca di atas tidak menentu, sesaat cerah, sesaat kemudian hujan, apalagi lebih-lebih kabut juga sering turun. Mengingat kondisi tenda juga yang kurang bagus, jadi kita sering makan dan tidur sambil basah-basahan… sampai-sampai ada juga yang sempatnya mimpi basah… hehehe *entah karena basah hujan atau karena basah lainnya… (ada-ada saja). Meskipun sangat dingin di atas, kita juga masih menyempatkan mandi lho (yang mandi), bahkan dari kita ada yang sempat-sempatnya mandi di subuh yang sangat ekstrim sekali temperature-nya karena mau tidak mau harus mandi (mandi besar bagi yang tadi malam mimpi basah…ckckck, aku nggak akan sebut namanya ntar malu dia.. hahaha). Lebih-lebih beribadah wajib pun tidak akan kita tinggalkan, meskipun angin dan udara dingin bercampur menjadi satu, kalau biasanya kita sholat beratapkan eternit/asbes, sekarang kita sholat langsung dari titik tertinggi Papandayan dan beratapkan langit… #terasa lebih dekat denganNya

Nah kalau berikut ini beberapa gambar pemandangan yang kita ambil dari sekitar lokasi camping, serasa berada ada di negeri, di atas awan….

Sebenarnya masih ada banyak sekali cerita-cerita seru lainnya selama di Puncak Papandayan. Mulai dari adventure menelusuri hutan pegunungan demi mencari bunga ‘Edelweiss’ – bunga abadi – kata orang bilang, sampai bagaimana cara beol di atas gunung, semua ada ceritanya. Tapi aku nggak mau membahas masalah beol di sini ntar bikin kalian terangsang lagi *ingat ini bukan blog mesum :D, aku yakin setiap kita punya cerita sendiri-sendiri, dan ini pun baru cerita dari aku. Mungkin sampai di sini dulu ceritanya, karena cerita di halaman ini sudah terlalu panjang, kasihan sama mbak-mbaknya kalau kepanjangan.

Tulisan ini aku dedikasikan kepada teman-temanku yang sudah berbagi pengalaman dan tempat tidur di tenda kemarin.. hehe, maaf aku dulu aku pernah menjanjikan akan menulis cerita petualangan ini di blogku dan baru sekarang aku sempat menulisnya, semoga kita ke depan bisa membuat cerita seperti ini kembali dan lebih menarik. A Papandayan in stories….

#Perjalanan Menuju Garut

Oke langsung saja ya daripada membahas dengan panjang dan lebar mau menulis kata-kata pembukaan untuk tulisan ini, mending aku langsung saja cerita… *karena aku juga memahami kasihan sama ibu-ibu dan mbak-mbaknya kalau terlalu panjang, dan kasihan dengan mas-masnya kalau terlalu lebar.. katanya nggak enak, nggak pas* <– ngomong apaan sih ini, aku sendiri juga nggak tau maksudnya, katanya nikah dulu baru tahu maksudnya… 😀

Ide untuk menikmati pegunungan Papandayan apalagi camping di sana sebenarnya adalah berawal dari ide yang tidak sengaja tercetus, tapi karena pada dasarnya kita semua suka dengan tantangan maka nggak ada salahnya untuk dicoba… *kita gtu lho, pemuda yang tertantang untuk menikmati ‘gunung kembar’ <– #abaikan. Pengalaman camping, sebenarnya dulu sudah pernah aku rasakan dalam acara Cinta Alam Indonesia 5 tahun yang lalu, bertempat di Bumi Perkemahan Kosambiwojo – Jombang. Jadi aku tidak takut untuk mencoba sensasi ini lagi di Gunung Papandayan, Cisurupan – Garut

Mendaki gunung, pemandangan pegunungan, suasana pegunungan, dan semua hal yang berhubungan dengan gunung-gunung pasti sesuatu yang menarik untuk dinikmati, dirasakan dan diceritakan karena ada sensasi tersendiri di sana, bahkan sampai-sampai orang yang punya ‘gunung’ sekali pun juga begitu enak untuk dinikmati, tanya saja sama yang sudah menikah… #lho apa hubungannya, karena kalau sudah di puncak kenikmatan ‘gunungnya’ pinginnya tidak mau turun-turun… #lho apalagi ini. Buktinya saja setiap weekend liburan, bagi warga Ibukota ke arah puncak pasti akan selalu ramai dan tentunya macet.

22.30 WIB. Kita sudah siap-siap untuk berangkat dan berkumpul. Iya kita berangkat malam hari karena kita ingin sampai di Gunung Papandayan esok pagi harinya dan sekalian bisa melihat sunrise ketika melakukan pendakian. Dan juga kalau berangkatnya malam kita nggak akan mengganggu dan merepotkan banyak orang waktu berangkat sambil membawa perlengkapan camping nanti. Oh ya, waktu itu rute yang kita pakai, kita jalan dari depan Jl Raya Bogor di KM 29 menuju Pasar Rebo (bawah Fly Over), dan cukup mengeluarkan ongkos sekitar Rp 2,000 untuk angkotnya.

Setelah sampai di Pasar Rebo kita kemudian naik bus kota yang menuju Garut, kalau tidak salah seingatku ongkosnya sekitar Rp 20,000. Dengan kata lain, cukup mengeluarkan uang Rp 22,000 kita sudah sampai Garut. Sebenarnya ada cara lagi sih yang lebih murah bisa turun sampai 50%-80%, tapi waktu itu kita nggak ada mood untuk melakukannya dan dirasa kurang menantang bagi kita. Mau??? coba saja sendiri caranya…. –> Jalan Kaki, atau Ngegandol Truk… 😀

Oh ya sedikit berbagi pengalaman saja, kalau naik bus pilih bus yang agak bagusan dikit jangan yang asal-asalan, asal bisa jalan, asal ada ban, atau asal ada yang naik. Karena kemarin kita di awal perjalanan dikejutkan dengan kejadian yang absurd *menggelikan, lucu, mustahil bin tak masuk akal*, karena enak-enaknya jalan sudah masuk tol, aku yang duduk di belakang tiba-tiba melihat orang teriak-teriak dan bergerombol menuju belakang, sekilas aku kira ada yang tawuran atau apa, eh tiba-tiba nggak lama dari arah depan, busnya mengeluarkan asap nggak jelas begitu, ya jelas bikin orang panik semua tidak karuan. *benar-benar kejadian yang absurd*

Perjalanan naik bus dari Jakarta (Pasar Rebo) menuju terminal Garut cukup lama juga karena membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Oleh karena waktu yang lama, maka kita semua manfaatkan untuk tidur di dalam bus, dan berharap kejadian absurd sebelumnya tidak terulang. Nggak lucu saja kalau tiba-tiba besok di TV muncul HotNews, “Para pemuda bepergian ke Gunung Papandayan lengkap dengan alat camping, naas terbakar gosong di dalam bus”

Pelajaran 1 –> *Setiap yang harganya murah pasti memiliki resiko lebih besar*

#Tiba di Terminal Garut

02.45 WIB. Dini hari kita sudah sampai di Garut sambil diselimuti dengan dinginnya udara waktu itu, lebih awal tiba dari rencana yang kita susun. Karena kalau kita berangkat langsung menuju Cisurupan, Gunung Papandayan kita akan memanjat sambil gelap-gelapan, iya kalau manjat ‘gunungnya’ di kamar tidur gelap-gelapan nggak masalah, malah nikmat katanya…#eh <– maaf, mungkin ini efek terlalu lama jadi perjaka… :D.

Atas dasar nama menjadi backpackers sejati, kita nggak mau menginap sampai mengeluarkan ongkos lagi… *bukannya kita nggak punya uang, uang kita sih banyak, lebih-lebih malah, sampai nggak bisa bayar lebih maksudnya.. 😀 *. Akhirnya kita punya ide untuk menginap di warung makan, cuman bermodalkan ongkos makan kita bisa tidur sebentar di warung makan tersebut. Rp 6,000-an = Makan + Nginap Gratis…. murahkan..?!? *benar-benar dah, jangan ditiru ya… hahhaha

#Perjalanan Menuju Cisurupan (Lokasi Gunung Papandayan)

04.50 WIB. Setelah selesai istirahat di warung makan (tidur juga sih… heheh), bersih-bersih (wajah doank), nggak lupa beol dulu dan tentunya sholat subuh, kita baru melanjutkan perjalanan langsung ke Cisurupan. Berangkat dari terminal menuju langsung ke lokasi, sebenarnya kita harus pakai angkot 2 kali pindah, tapi karena kita orangnya ‘nggak lurus-lurus amat’ (baca: orang yang nggak benar) kita melakukan negoisasi dengan angkot yang waktu itu ada di terminal masih sedikit untuk mau mengantarkan kita langsung menuju Cisurupan. Akhirnya dengan ber-7 ada juga sopir angkot yang se-7 untuk mengangkut kita. Oh ya, as your reference per orangnya kalau tidak salah waktu itu jadi kena ongkos sekitar Rp 5,000 – Rp 7,000-an.

#Perjalanan ke (Kaki) Gunung Papandayan

06.30 WIB. Udara pagi waktu itu begitu dingin hingga merasuk ke tulang-tulang, ketika kita menguap saja sama seperti kita sedang merokok, keluar asap dari mulut. Ya… akhirnya kita sampai juga di Cisurupan, Garut. Ternyata, sampai di sini bukan berarti kita sudah sampai di Gunung Papandayan yang kita maksud. Karena kita baru sampai di desa Cisurupan-nya saja, atau kira-kira masih 3-4 km lagi menuju kaki gunung Papandayan…. waduh, padahal udah nggak tahan lagi cepat-cepat mau menikmati ‘gunung kembar‘ di sana… #eh

Mungkin 3-4 km di jalanan lurus dan tidak mendaki bisa kita tempuh dengan jalan kaki, tapi karena jalanannya naik ke atas ya beda ceritanya. Yaa… sebenarnya jalan kaki dari desa Cisurupan ke kaki gunung Papandayan sih  bisa-bisa saja, nggak masalah dan karena pada dasarnya kita juga suka tantangan, tapi karena waktu kita masih panjang untuk aktifitas di puncak nanti jadi kita harus menghemat tenaga… *ngeles.com

Untuk yang mau bepergian ke sana, nggak perlu sedih hati, lelah-lelah jalan kaki, ternyata di sana ada juga orang yang menawarkan jasanya untuk mengantarkan kita naik ke atas menuju kaki gunung Papandayan. Yang jelas transportasi jenis ini enak, kita bisa menghirup udara bebas segar semau-semaunya, bisa bergaya-gaya di atasnya, apalagi foto-fotoan segala. Tau nggak apaan transportasinya…?? Ojek….. bukan, Angkot…… juga bukan, Bus ya…. wah bukan juga, ohh kereta api ya…. -_-!| emang ini tempat Jakarta kali dimana-mana ada kereta api dan bus… bukan juga, tapi jenis transportasinya ialah… jreng… jreng… jreng…. Mobil Pick Up…. hhahaha…

Jangan salah, dengan mobil ini semua pemandangan gunung di sekitar bisa kita lihat dengan bebas dari segala arah, tanpa terhalang jendela maupun kaca sedikitpun. Kereeennn kan… tapi di satu sisi orang lain di sekitar juga bisa melihat bebas dari sudut manapun kita yang ada di mobil… -_-!|. Setelah tawar-menawar, akhirnya kita dapat harga Rp 50,000.- untuk satu mobil pick up yang akan mengantarkan kita menuju kaki gunung Papandayan. Asyik-asyik hampir sampai nigh…

Nih pemandangan yang dapat kita ambil dari atas mobil…

Kalau lihat jauh perjalanannya saja segitu, bagaimana kalau jalan kaki tadi, bisa-bisa sampai atas dan nggak turun-turun ke bawah selamanya… *alias sekarat di atas.

#Kaki Gunung Papandayan, Akhirnya…

07.30 WIB. Seiring dengan terus meningginya matahari, bukan berarti ikut menaikkan suhu udara waktu itu malah menurun mendekati nol derajat lho… *lebay*, karena mengingat matahari juga masih diselimuti awan yang tebal. Akhirnya kita sampai juga di kaki gunung Papandayan, setelah berlama-lama di atas mobil pick up dengan kaki yang kaku. Oh ya, jangan lupa setelah sampai langsung carter kembali mobil yang mengantarkan kita tadi dan sekalian catat nomor telepon bapaknya, ini untuk mengontak bapaknya agar besok kalau kita mau pulang bisa diangkut kembali balik turun ke bawah, dan pastinya nanti bayar lagi juga.

Setelah sesampai di kaki Gunung Papandayan, tahu nggak apa yang kita lakukan untuk pertama kalinya…?? hayoo..!!! pastinya foto-foto dulu donk… hahaha. Karena momen-momen seperti ini sulit untuk dicari, dan untung hobi kita sama semua… suka di-foto… 😀

Oh ya tahu nggak, apa yang kita lakukan lagi setelah sesampai di sana (setelah foto-foto maksudnya)…. hayoo… yang pasti beol…. nggak tahu sekarang koq emang demen banget sama yang namanya beol… 😀 #abaikan, gk penting.

Nah sekarang bagi teman-teman yang pingin pergi jalan-jalan ke Gunung Papandayan sudah tahu khan, harus naik apa dan kemana dulu. Nggak perlu takut kesasar seperti anak hilang, khan kita punya mulut dan bisa baca, sebenarnya dengan dua modal itu kita bisa sampai lokasi, toh dari kita juga belum pernah yang ada ke sana sebelumnya.

Pelajaran 2 –> *Di dalam bepergian, mulut dan bisa membaca petunjuk jalan adalah modal penting selain kompas*

Seru kan.. kalau teman-teman masih ingin membaca lanjutan kisahku tentang survive di Puncak Papandayan, teman-teman bisa baca tulisanku selanjutnya di ‘Menaklukkan Gunung Papandayan‘. Nggak kalah seru dan menarik dengan cerita yang di atas. Selamat menikmati.

BONUS. Ini ada gambar yang menurutku absurd sekali, ini diambil dalam perjalanan pulang. Please don’t try at home by your motorcycle…

MySpace
Hallo guys... <– **bener-bener sapaan yang maksa banget dan sok gaul**

Lama nih tidak mencorat-coret lagi di blog, Alhamdulillah sekarang aku punya sedikit waktu nih untuk menulis tentang “sesuatu” banget yang terjadi di bulan November ini. Ayo-ayo ada yang tahu nggak ada apaan di bulan November ini…? Coba tebak..

Ada yang bilang di bulan November ini ada…

  • Peringatan hari Pahlawan, bener tuh, tepatnya di 10 Nopember… –> *ayo-ayo yang masih pelajar biasanya ada upacara di setiap sekolahnya, kalau upacara jangan lupa bawa topi, pakai kaos kaki warna putih polos jangan yang ada gambar Hello Kitty, sepatunya warna hitam, dan jangan lupa potong rambut yang rapi, kalau nggak begitu ntar kena punishment lho berdiri dan dijemur di pinggir lapangan seperti kerupuk mau digoreng, iya kerupuk gurih kalau kamu mah bisa kaya’ upil garing….

MySpace

Ada juga yang bilang di bulan November itu…

  • Kucing tetangga sebelah yang imut mau ngelahirin di bulan ini lho… –> *emang gue pikirin apa, kecuali kalau aku yang ngehamilin kucingnya itu baru aku pikirin sampai setengah mati, kalau bisa mati sekalian saja…
  • Boy band 2PM akan mengadakan konser dan datang ke Indonesia… –> *trus…?? terus terang aku saja baru tahu kalau ini nama band. Sorry jek aku nggak suka sama boy band, emang eiki cowok apaan bo’ suka sama band-band yang isinya cowok-cowok juga, aku sih sukanya cuma satu yaitu sama personilnya Sm*sh… #lho
  • Bapak yg punya kontrakan mau datang ke rumah… –> *wah kalau yang ini sebenarnya masalah besar, karena kontrakan masih kotor, bocor sana-sini, barang-barang masih berserakan, mulai dari sepatu sampai celana dalam (red: CD), apalagi tuh temanku CDnya ada dimana-mana nggak jelas mulai dari nempel ke tembok sampai jadi keset segala… hehe #bohong ding..

Tapi yang jelas aku tidak ingin membahas dari beberapa topik di atas untuk saat ini. Di bulan ini ada beberapa fenomena dan acara yang terjadi secara unik serta terjadi bersamaan, dan ini yang mau aku cerita di sini. Rata-rata orang setuju kalau acara ini merupakan acara yang bisa dibilang sakral karena perencanaan dan persiapannya yang lama dan sangat matang, acara itu sebenarnya…

Pernikahan dan SEA Games

Buseettt…!!! apa hubungannya coba… *hubungannya baik-baik saja cin

Mungkin dari kita ada yang bertanya juga seperti begitu, termasuk kamu khan…?? iya khan..?? halah ngaku saja, gk usah bohong, please deh ah…. <– *sumpah alay dan lebay abiieess nulisnya

Nih aku kasih tahu, coba lihat kalender, pada tahun ini, bulan ini, bahkan tanggal untuk hari ini semuanya hampir sama. “11-11-11”, atau sama halnya dengan 11-11-2011, 11-November-2011. Karena uniknya tanggal ini, ada beberapa orang yang tidak ingin melewatkan kesempatan emas ini begitu saja berlalu. 52 pasangan atau sekitar ratusan orang di Pekanbaru dikabarkan akan melangsungkan pernikahan di tanggal tersebut, kemudian di wilayah Lubukbasung, Sumbar, ada lagi 22 pasangan, ini belum lagi di tempat-tempat nusantara lainnya… buseetttt dah…. kalau nggak percaya nih cek informasinya di sini dan ini.

Ini juga belum dengan dihitung undangan pernikahan dari teman-temanku. Tidak boleh dibiarkan bisa-bisa aku berada di urutan terakhir dari semua teman-temanku…
MySpace

Bagi yang di tanggal 11-11-11 nggak kebagian penghulu untuk menikah, tenang saja masih ada koq tanggal yang nggak kalah uniknya, yaitu 12-12-12, tapi jangan lupa segera dibooking penghulunya mulai dari sekarang daripada ntar kehabisan lagi… *meskipun calonnya belum ada, hehehe…

Lepas dari berbicara mengenai pernikahan, sekarang kita membahas masalah SEA Games. Ada yang tahu nggak kalau pembukaan SEA Games ke 26 ini juga diselenggarakan pada tanggal 11-11-11.

Mungkin dari kita ada yang berpikir kenapa ya SEA Games kali ini diadakan di Indonesia terutama Jakarta sebagai salah satu tuan rumahnya, padahal sebelumnya sempat memunculkan kekhawatiran apakah semua venue untuk perlombaan siap dipakai dan digunakan untuk pertandingan. Apalagi Jakarta di musim hujan yang tidak pernah absen dengan bencana banjir. Tapi ada benernya juga sih diadakan di Jakarta, khan sudah sesuai dengan namanya SEA Games (*SEA = Laut, SEA Games = pertandingan laut) jadi semua venue paling tidak harus berkaitan dengan air *baca: banjir…. hahaha

Okey, yang terpenting adalah untuk saat ini kita selalu berdoa semoga acara terbesar di Asia Tenggara ini bisa berjalan dengan sukses, aman dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diperkenankan, serta yang terakhir semoga Indonesia bisa menjadi juara umum di kandang… #AyoIndonesiaBisa

By the way, anyway, busway…. ada yang tahu nggak apa maskot SEA Games kita tahunn ini. Maskot SEA Games 2011 (26th SEA Games) ternyata komodo cin, dan mereka berdua punya nama “Modo” dan “Midi”, aku pikir awalnya itu nama si “Komo”. Seharusnya aku lebih setuju kalau nama maskotnya diganti jadi “Paijo” dan “Inem” lebih Indonesia banget khan tuh nama… hehhehe

Modo dan Midi

Oh ya, untuk melihat sejauh apa SEA Games berlangsung dan memonitoring setiap jalannya pertandingan bisa dilihat di website resminya SEA Games 2011 di sini dan website Ayo Indonesia Bisa